Kapal-kapal berlayar di Selat Hormuz.(Anadolu)
LALU lintas kapal di Selat Bab al-Mandab dan Selat Hormuz tetap relatif stabil meski ketidakpastian pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran tetap berlanjut. Namun, ancaman keamanan di area membikin sejumlah kapal tanker memilih mengubah rute pelayaran.
Data pelayaran menunjukkan belum ada perubahan signifikan pada arus kapal di area tersebut, sementara akibat keamanan tetap menjadi perhatian utama pelaku industri maritim.
Berdasarkan info pencarian kapal Kpler, sebanyak 20 kapal melintasi Selat Bab al-Mandab pada Senin (3/8), jumlah tersebut terdiri atas 12 kapal tanker dan delapan kapal pengangkut curah, sama seperti sehari sebelumnya.
Dari total pelayaran itu, tercatat 12 kapal berangkat dan delapan kapal tiba di area tersebut. Sebagian besar kapal tetap mengaktifkan sistem transponder selama melintasi jalur pelayaran internasional tersebut.
Stabilnya aktivitas pelayaran terjadi di tengah belum adanya kepastian mengenai perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyampaikan bahwa hingga sekarang tidak ada proses negosiasi nan sedang berjalan dengan Washington maupun agenda pertemuan nan telah dijadwalkan.
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan telah menunda rencana serangan baru terhadap Iran.
Trump mengatakan keputusan tersebut diambil sembari menunggu hasil pembicaraan nan diharapkan dapat mengakhiri bentrok kedua negara sekaligus menyelesaikan persoalan mengenai Selat Hormuz.
Sementara itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga tidak mengalami perubahan berarti. Data Kpler menunjukkan hanya enam kapal nan melintasi selat tersebut pada Senin (3/8), terdiri atas tiga kapal tanker dan tiga kapal pengangkut curah. Jumlah itu sedikit lebih rendah dibandingkan tujuh kapal nan tercatat pada hari sebelumnya.
Dari enam kapal tersebut, lima memasuki area Teluk dan satu kapal keluar. Seluruhnya diketahui melintas melalui jalur pelayaran nan berada di wilayah perairan Iran.
Meski demikian, nomor tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya lantaran sebagian kapal kemungkinan mematikan transponder selama pelayaran sehingga tidak tercatat dalam sistem pemantauan.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap ancaman keamanan di area tetap memengaruhi keputusan perusahaan pelayaran. Risiko serangan terhadap kapal membikin banyak operator tetap bersikap hati-hati saat melintasi jalur strategis tersebut.
Situasi keamanan juga mendorong sejumlah kapal tanker super berbendera Arab Saudi mengubah rute pelayaran mereka.
Beberapa kapal memilih menghindari Teluk Aden dan berlayar memutar melalui Afrika bagian selatan menyusul ancaman golongan Houthi di Yaman nan menyatakan bakal menargetkan kapal-kapal nan berangkaian dengan Arab Saudi. (Jerusalempost/P-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·