Senjata AS Disebut "Sakaratul Maut", Trump dan Pentagon Pasang Kuda-Kuda

1 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pejabat Gedung Putih dan Pentagon dengan tegas membantah serangkaian laporan nan mengindikasikan bahwa pasokan senjata ofensif dan melindungi Amerika Serikat (AS) telah turun ke tingkat nan sangat berbahaya. Penurunan pasokan amunisi militer tersebut dilaporkan terjadi secara drastis setelah lima bulan peperangan berjalan dengan Iran.

Mengutip Al Jazeera, Kamis (6/8/2026), Presiden AS Donald Trump menolak klaim bahwa negaranya menghadapi kekurangan pasokan senjata dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa. Ia justru menyalahkan mantan Presiden Joe Biden nan dianggap telah membagikan amunisi pencegat Patriot secara cuma-cuma ke Ukraina dan Eropa.

"Kami mempunyai jauh lebih banyak amunisi daripada siapa pun di dunia, dan jauh lebih banyak daripada nan kami butuhkan, terlepas dari realita bahwa jumlah nan belum pernah terjadi sebelumnya telah diberikan oleh Joe Biden nan Korup dan Pemerintahan Biden ke Ukraina dan Eropa tanpa biaya, dalam salah satu dari banyak tindakan mereka nan sangat bodoh," ujar Trump.

"Dan saat kita membangunnya, kita bakal mulai menerbitkan lebih banyak kepada sekutu kita di Eropa dan tempat lain," tegasnya.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, juga membantah bahwa militer AS sedang berada dalam situasi kekurangan amunisi nan mengerikan. Ia menegaskan militer Amerika adalah nan paling kuat di bumi dan mempunyai segala nan dibutuhkannya untuk dieksekusi pada waktu dan tempat nan dipilih oleh Presiden.

"Kami telah melaksanakan beragam operasi nan sukses di seluruh komando tempur sembari memastikan militer AS mempunyai persenjataan keahlian nan dalam untuk melindungi rakyat dan kepentingan kita," tuturnya.

Laporan Kekurangan Stok Rudal

Beberapa laporan pada hari Senin justru menunjukkan bahwa situasi krisis persenjataan AS mungkin jauh lebih nyata daripada nan diakui para pejabat secara terbuka. CNN melaporkan bahwa militer AS telah menghabiskan 80 persen pencegat THAAD dan sekitar separuh pencegat Patriot nan membikin persediaannya berada di tingkat nan sangat rendah.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dengan sigap menentang nomor 80% tersebut beserta karakterisasi ancamannya. Ia merespons laporan tersebut dengan menuliskan sanggahan "tidak benar" dan "memalukan" di platform X pada hari Senin.

Analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 27 Juli juga menghitung bahwa militer AS hanya menyisakan sedikit lebih dari sepertiga rudal Patriot dan sekitar separuh THAAD. CSIS memproyeksikan bahwa bakal dibutuhkan waktu setidaknya tiga tahun untuk memulihkan pasokan ke tingkat sebelum perang meskipun ada kucuran biaya baru.

Reuters dan CBS News secara terpisah melaporkan bahwa militer AS juga telah menghabiskan sebagian besar rudal ofensif jarak jauh ATACMS dan PrSM nan sangat akurat. Dua sumber mengungkapkan bahwa nyaris semua rudal tersebut telah digunakan, di mana masing-masing misil itu menelan biaya sekitar US$1 juta (Rp17,8 miliar).

Pemerintahan Trump sejauh ini belum mengakui ancaman nan ditimbulkan oleh krisis ini secara publik. Meskipun demikian, pemerintah telah meminta anggaran pertahanan sebesar US$ 95 miliar (Rp 1.692 triliun) untuk Tahun Anggaran 2027 dan permintaan biaya tambahan sebesar US$ 21.000.000.000 (Rp 375 triliun) untuk mengisi kembali gudangnya.

Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, dilaporkan telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran mengenai krisis ini di kembali pintu tertutup. The New York Times menyebut bahwa kekhawatiran pasokan senjata inilah nan menjadi salah satu aspek Trump mundur dari eskalasi nan lebih besar pada akhir Juli lalu.

Keputusan mundur tersebut diambil setelah nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran untuk menghentikan pertempuran pada bulan Juni mengalami kegagalan. Runtuhnya kesepakatan tersebut sempat memicu serangan berbalas dari kedua belah pihak selama nyaris dua minggu penuh.

Dampak Keamanan Pasukan AS dan Sekutu

Pensiunan kolonel Korps Marinir AS dan penasihat senior CSIS, Mark Cancian, menilai kekurangan senjata ATACMS dan PrSM bakal menurunkan keahlian angkatan darat untuk melancarkan serangan dari jauh. Ia menyebut pasukan AS nantinya kudu menggunakan sistem pengganti seperti JASSM alias Tomahawk dan melakukan serangan jarak dekat nan lebih membahayakan pasukan.

"Untuk ATACMS dan PrSM, jika Anda nyaris lenyap alias kehabisan, maka Anda kudu menggunakan beberapa sistem lain, dan itu bisa dikirim melalui udara alias laut, jadi Anda mungkin berbincang tentang Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSM) alias Tomahawk untuk menyerang sasaran dalam, alias menyuruh pesawat terbang di atas wilayah musuh,"

"Itu lebih berbahaya, dan Anda betul-betul kudu mengalahkan sistem pertahanan udara manapun," tuturnya.

Cancian juga menegaskan bahwa krisis pencegat pertahanan udara jauh lebih serius lantaran tidak ada senjata pengganti nan sepadan. Kekhawatiran tersebut terbukti nyata pada serangan 17 Juli lampau di pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania. Insiden tersebut menewaskan tiga tentara AS setelah rudal Iran sukses menembus sistem pertahanan militer AS dan Yordania.

Ia menilai Iran tidak mungkin dapat sepenuhnya menghabiskan sisa pencegat AS dalam jangka pendek. Namun, setiap rudal AS nan digunakan dinilai bakal mengurangi kesiapan senjata untuk menghalangi China, sebuah titik di mana staf campuran sekarang merasa sangat gugup.

"Setiap rudal nan digunakan adalah satu nan berkurang ketersediaannya untuk menghalangi China, dan kita sekarang berada pada titik di mana staf campuran betul-betul sangat gugup tentang perihal itu," papar Cancian.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya