Cuplikan serial TV Nabi Yusuf.(Youtube Aliel Alfy)
KISAH dramatis melanda family Nabi Yakub AS saat putra bungsunya, Benyamin, tertangkap tangan membawa piala milik Gubernur Mesir (Yuzarsif/Yusuf). Insiden ini memicu ketegangan besar antara saudara-saudara Yusuf dengan otoritas Mesir, sekaligus membuka luka lama tentang masa lampau mereka.
Berikut sinopsis serial televisi Iran berjudul Nabi Yusuf. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.
Tuduhan Pencurian di Karung Benyamin
Suasana mencekam terjadi ketika petugas keamanan Mesir menemukan piala gubernur di dalam peralatan bawaan Benyamin. Saudara-saudara Benyamin nan terkejut langsung melontarkan kecaman. Mereka merasa malu di hadapan rakyat Mesir dan menuduh Benyamin telah membalas kebaikan gubernur dengan kejahatan.
Bahkan, dalam tekanan tersebut, beberapa kerabat Benyamin sempat mengungkit masa lampau dengan menyebut bahwa kakak Benyamin (Yusuf) juga pernah mencuri di masa kecil. Tuduhan ini menambah beban moral bagi Benyamin nan hanya bisa bertawakal diri kepada Allah SWT.
Hukum Kanaan dan Penahanan Benyamin
Berdasarkan norma nan bertindak di tanah Kanaan--sebagaimana nan diakui sendiri oleh saudara-saudara Yusuf--seorang pencuri kudu dihukum menjadi budak bagi pemilik peralatan nan dicuri. Gubernur Mesir menggunakan pernyataan mereka sendiri untuk menahan Benyamin sebagai budak.
Meskipun saudara-saudaranya memohon belas iba dan menawarkan diri untuk menggantikan posisi Benyamin, Gubernur tetap teguh pada keputusannya. Ia menyatakan bahwa menghukum orang nan tidak bersalah adalah sebuah ketidakadilan. Gubernur juga menyinggung soal pentingnya pertobatan bagi mereka nan telah melakukan dosa di masa lalu.
Dialog Kunci: "Aku berjanji demi Allah, peralatan milikku ada di karung Benyamin. Bagaimana saya bisa menghukum orang lain? Itu namanya tidak adil," tegas Gubernur Mesir saat menolak tawaran pertukaran tawanan.
Keputusan Lewi dan Kesedihan Nabi Yakub
Kehilangan Benyamin membikin saudara-saudaranya terpukul, terutama lantaran mereka telah berjanji kepada ayah mereka, Nabi Yakub, untuk menjaga Benyamin dengan nyawa mereka. Lewi, salah satu kerabat tertua, memutuskan untuk tetap tinggal di Mesir dan tidak bakal kembali ke Kanaan sampai ayahnya memberikan izin alias Allah memberikan jalan keluar.
Ketika kafilah akhirnya tiba di Kanaan tanpa Benyamin dan Lewi, Nabi Yakub mengalami guncangan hebat. Ia tidak percaya bahwa putra bungsunya adalah seorang pencuri. Yakub mengecam anak-anaknya nan dianggap tidak beradab lantaran dengan mudah menuduh kerabat sendiri tanpa mengetahui kebenaran nan sebenarnya.
Anak-anak Yakub mengabarkan bahwa Benyamin ditahan oleh Gubernur Mesir lantaran kedapatan mencuri piala emas. Namun, Yakub dengan tegas menolak percaya. "Benyamin bukan pencuri. Ini semua hanya tuduhan," tegasnya. Ia mengingatkan anak-anaknya bakal sumpah nan mereka ucapkan di hadapan Allah untuk menjaga Benyamin.
Ketidakpercayaan Yakub didasari oleh pengalamannya membesarkan Benyamin. Baginya, tuduhan ini hanyalah omong kosong yang berasal dari pikiran anak-anaknya sendiri, serupa dengan peristiwa hilangnya Yusuf puluhan tahun silam. Sementara itu, Lewi memilih tetap tinggal di Mesir lantaran merasa malu untuk pulang tanpa membawa Benyamin.
Duka Mendalam hingga Mata Memutih
Kesedihan nan bertubi-tubi--kehilangan Yusuf, sekarang disusul Benyamin dan Lewi--membuat kondisi bentuk Nabi Yakub menurun drastis. Ia terus menangis dalam penyendiriannya hingga matanya berubah menjadi putih dan kehilangan penglihatan.
Anak-anaknya, termasuk Dina, mencoba membujuknya untuk berakhir meratap lantaran cemas sang ayah bakal jatuh sakit alias apalagi meninggal. Namun, Yakub justru meminta mereka menjauh. Ia merasa anak-anaknya tidak memahami rasa sakit akibat kehilangan cermin keelokan Allah yang dia lihat dalam diri Yusuf.
Momen Pertobatan dan Pesan Utusan Allah
Di tengah puncak kesedihannya, Yakub didatangi oleh sosok pembawa wahyu alias utusan Allah. Dalam perbincangan tersebut, sang utusan mengingatkan Yakub bahwa meski dia mempunyai 11 anak lain, hatinya terlalu terpaku pada Yusuf.
Utusan tersebut memberikan perumpamaan tentang Nabi Ibrahim nan baru dikembalikan putranya, Ismail, setelah dia bersedia mengorbankannya demi Allah. Hal ini menyadarkan Yakub bahwa dia mungkin telah menjadikan Yusuf sebagai pengganti Allah dalam hatinya, bukan sekadar ciptaan-Nya.
Momen Penting: Nabi Yakub akhirnya berjanji untuk mengorbankan rasa cintanya nan berlebihan kepada Yusuf dan Benyamin di hadapan Allah. Ia menyatakan tobat dan berjanji hanya bakal mengadukan kesedihannya kepada Allah SWT. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·