ARTICLE AD BOX
Cuplikan serial TV Nabi Yusuf.(Youtube Islamic Series Indonesian)
KISAH tragis menimpa Apopis, penata meja Firaun Amenhotep III, nan dijatuhi balasan meninggal dengan langkah digantung. Hukuman berat ini dijatuhkan setelah dia dinyatakan bersalah atas tuduhan berkolusi dengan musuh-musuh Mesir serta melakukan percobaan pembunuhan terhadap Firaun, istri, dan anak-anaknya.
Berdasarkan titah kerajaan, tubuh Apopis dibiarkan tergantung di tiang gantungan hingga meninggal perlahan. Sebagai corak penghinaan tertinggi dalam tradisi Mesir, jasadnya tidak bakal dijadikan mumi, nan berfaedah dia tidak bakal mendapatkan akses ke kehidupan kekal di Barat. Sebaliknya, jasadnya dibiarkan menjadi mangsa burung-burung pemangsa hingga hancur lebur.
Berikut sinopsis serial televisi dari Iran berjudul Nabi Yusuf bagian 23. Selamat menikmati.
Perlawanan Keyakinan di Detik Terakhir
Di tengah penderitaannya, Apopis menunjukkan pembangkangan terhadap kepercayaan tradisional Mesir. Ia secara terbuka menyatakan kebenciannya terhadap Dewa Amon dan para pemimpin kuil nan dianggapnya tidak adil. "Aku tidak lagi percaya pada agamamu nan konyol. Aku tidak suka Amon nan tidak berfaedah itu," serunya di hadapan massa nan berteriak-teriak menuntut kematiannya.
Apopis justru memanjatkan angan kepada Tuhan nan Maha Esa, menyatakan keyakinannya pada konsep monoteisme nan dia pelajari selama di penjara. Ia apalagi mengungkapkan penyesalannya lantaran tidak sempat memperkenalkan aliran tersebut dan sosok Yuzarsif kepada anak-anaknya sebelum ajal menjemput.
Kebenaran Tafsir Mimpi Yuzarsif
Eksekusi Apopis menjadi bukti nyata atas keakuratan tafsir mimpi nan diberikan oleh Yuzarsif. Sebelumnya, Yuzarsif meramalkan nasib Apopis dan rekannya, Inarus, saat mereka tetap mendekam di penjara Zafira. Sesuai prediksi tersebut, Inarus dibebaskan dan dikembalikan ke posisi lamanya di istana, sementara Apopis berhujung di tiang gantungan.
Kejadian itu memperkuat posisi Yuzarsif sebagai sosok nan mempunyai hubungan unik dengan Tuhan, meskipun para penentangnya tetap menuduhnya sebagai penyihir alias dukun. Yuzarsif menegaskan bahwa kemampuannya bukanlah sihir, melainkan kebenaran nan disampaikan Allah melalui dirinya.
Catatan Sejarah: Penolakan untuk dilakukan mumifikasi merupakan balasan spiritual paling berat di Mesir Kuno, lantaran dianggap menghancurkan eksistensi jiwa di alam baka secara permanen.
Ketegangan di Istana dan Kuil Amon
Kematian Apopis tidak meredakan ketegangan di Mesir. Firaun Amenhotep Muda (Akhenaten) mulai menunjukkan ketidaksukaan nan mendalam terhadap kekuasaan para pemimpin Amon. Ia mengkritik keserakahan kuil dan menyatakan bahwa selama kepercayaan lama tersebut tetap berakar, kezaliman bakal terus ada di Mesir.
Di sisi lain, pengaruh Yuzarsif terus meluas. Pembebasan tahanan lain berjulukan Ninefer Kibta, nan juga diprediksi oleh Yuzarsif, semakin meyakinkan banyak pihak bahwa pesan nan dibawa oleh pemuda tersebut merupakan kebenaran nan tak terbantahkan.
Penyesalan Zulaikha dan Penuaan nan Menyakitkan
Zulaikha, istri Potifar, sekarang terjebak dalam depresi berat setelah memenjarakan Yuzarsif. Dalam perbincangan emosional, dia menyalahkan pelayannya atas situasi tersebut. Zulaikha merasa buntu lantaran tidak mungkin meminta Potifar membebaskan Yuzarsif tanpa menimbulkan kecurigaan besar.
Kondisi mental ini berakibat jelek pada fisiknya. Zulaikha terkejut saat menyadari wajahnya mulai keriput dan terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. "Selama 8 alias 9 tahun Yuzarsif di penjara, umur Nyonya Zulaikha seperti bertambah 20 tahun," ungkap salah satu pelayan istana. Ia merasa hancur lantaran takut Yuzarsif tidak bakal lagi mengenalinya sebagai wanita tercantik di Mesir saat dia dibebaskan nanti.
Kesehatan Potifar nan Menurun
Tidak hanya Zulaikha, Potifar pun mengalami penurunan kesehatan nan signifikan. Tabib istana, Sin, mendiagnosis ada gangguan debar jantung nan tidak teratur akibat beban kerja dan stres nan berlebihan. Meski diperingatkan untuk beristirahat total, Potifar bersikeras tetap menjalankan tugas kenegaraan demi menjaga stabilitas Mesir.
Catatan Tabib: Potifar dilarang keras untuk marah alias terlalu antusias lantaran kondisi jantungnya nan kritis. Namun, dia memilih untuk mengabaikan saran medis demi urusan kekaisaran.
Wasiat Terakhir Amenhotep III: Penolakan terhadap Amon
Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Firaun Amenhotep III memberikan petunjuk rahasia kepada putranya, Amenhotep IV. Secara mengejutkan, sang Firaun menyatakan ketidakpercayaannya pada dewa Amon dan para pemimpin di kuilnya.
Ia memperingatkan putranya bahwa para pemimpin Amon adalah makhluk rawan nan hanya mencari untung pribadi. Amenhotep III meminta agar jasadnya tidak dikuburkan berbareng patung Amon. Ia juga berpesan agar Amenhotep IV lebih mempercayai Potifar dibandingkan para pemimpin alias apalagi ibunya sendiri nan merupakan penyembah Amon nan fanatik.
Transisi Kekuasaan: Matahari nan Terbenam
Kematian Amenhotep III digambarkan seperti terbenamnya matahari. Proses mumifikasi segera dilakukan untuk mempersiapkan perjalanan sang Firaun ke alam baka. Di saat nan sama, persiapan penobatan Amenhotep IV sebagai Firaun baru Mesir mulai dilakukan.
Transisi ini membawa angan sekaligus ketidakpastian, terutama mengenai pesan sang ayah untuk menjauhkan pengaruh para pemimpin Amon dari urusan negara. Sementara itu, di kembali ruji-ruji besi, Yuzarsif tetap menjalani hari-harinya dengan tenang, menanam kembang sebagai simbol kesabaran nan tak terbatas. (I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·