ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026-2030 Mohamad Fadhil Hasan menilai bentrok nan terjadi di Timur Tengah bisa menjadi momentum, terutama bagi banyak negara untuk mempercepat pengembangan daya baru dan terbarukan (EBT).
Ia mengutip pandangan analis geopolitik asal Amerika Serikat, Ian Bremmer nan menyebut bahwa satu-satunya akibat positif dari perang di Timur Tengah adalah semakin cepatnya beragam negara menjalankan program transisi energi.
"Jadi menurut Ian Bremer ini, analis geopolitik dari Amerika mengatakan bahwa satu-satunya perihal nan positif nan terjadi dari adanya perang di Timur Tengah itu adalah bahwa semua negara sekarang ini mempercepat program daya baru terbarukannya," kata dia saat berbincang di Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Rabu (1/7/2026).
Menurut dia, Indonesia juga kudu memanfaatkan momentum tersebut dengan mempercepat diversifikasi sumber daya nasional agar tidak terlalu berjuntai pada satu jenis energi.
"Ini momentum untuk mempercepat EBT? Momentum untuk mempercepat program EBT ini," katanya.
Fadhil membeberkan pemerintah sendiri telah menyiapkan sejumlah program strategis untuk mendukung percepatan transisi energi. Di antaranya pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW), program konversi hingga 120 juta sepeda motor menjadi kendaraan listrik, serta penerapan mandatori biodiesel B50.
"Kemudian juga tadi simulasi oleh Pak Bambang adalah program B50. Jadi saya kira ini merupakan suatu langkah antisipatif," kata dia.
(ven/arj)
Addsource on Google

3 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·