ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas finansial Jepang dilaporkan telah menggelontorkan biaya raksasa sebesar 11,7 triliun yen alias setara US$ 74 miliar (Rp 1.331,07 triliun) sepanjang bulan April dan Mei lampau untuk membeli mata uangnya sendiri. Intervensi pasar secara masif ini terpaksa dilakukan demi menahan kejatuhan nilai tukar yen, nan terus merosot hingga menyentuh level terendah baru dalam 40 tahun terakhir.
Mengutip laporan CNBC Internasional, mata duit Jepang tersebut kembali melemah drastis hingga menyentuh nomor 162,83 per dolar AS pada hari Selasa. Jatuhnya nilai tukar ini memicu spekulasi kuat di kalangan pelaku pasar bahwa pemerintah Tokyo bakal segera masuk kembali ke pasar kurs asing untuk melakukan intervensi darurat dalam waktu dekat.
Namun, para penanammodal dan mahir strategi ekonomi memperingatkan bahwa langkah intervensi sepihak dari Tokyo tidak bakal bisa membalikkan tren pelemahan yen. Hal ini disebabkan oleh melebarnya jarak tingkat suku kembang referensi antara Bank of Japan (BOJ) dan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), di mana The Fed diproyeksikan bakal mempertahankan kebijakan moneter restriktif dalam jangka waktu nan jauh lebih lama.
Langkah BOJ nan baru meningkatkan suku kembang referensi ke level 1% dinilai tetap terlalu rendah untuk dapat menyaingi imbal hasil dolar AS. Sehingga kejadian carry trade terus menekan mata duit yen ke luar dari pasar domestik.
"Intervensi dapat memperlambat kejatuhan, menghukum spekulasi nan berlebihan, dan memberi sinyal ketidaknyamanan resmi. Namun, intervensi tidak dapat membatalkan hitungan matematika," jelas master strategi investasi dunia di Franklin Templeton Institute, Christy Tan, dikutip Kamis (2/7/2026).
Restu AS Menjadi Kunci
Para pengamat ekonomi menegaskan bahwa pelemahan yen saat ini murni dipicu oleh keperkasaan dolar AS secara global. Jadi, ini bukan lantaran hilangnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi Jepang.
Indikator ini terlihat dari pergerakan kurs silang euro-yen nan condong jauh lebih stabil, di mana yen tercatat melemah hingga 3,9% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini namun hanya turun tipis 0,9% terhadap mata duit euro.
Oleh karena itu, strategi intervensi nan dilakukan sendirian oleh Tokyo dinilai hanya bakal memberikan pengaruh penguatan yen nan berkarakter sementara. Beberapa manajer portofolio obligasi menyarankan bahwa Tokyo kudu mendapatkan support dan koordinasi multilateral dari Washington agar intervensi mata duit asing tersebut dapat menghasilkan reaksi penguatan yen nan jauh lebih berkekuatan dan permanen di pasar finansial global.
"Selama penanammodal dapat meminjam dengan murah dalam yen dan menghasilkan lebih banyak dalam dolar, carry trade bakal terus membawa yen menjauh," tambah Christy Tan.
"Tokyo menginginkan yen nan lebih kuat tanpa sepenuhnya menerima akibat biaya kebijakan dari penguatan tersebut."
Dilema Kebijakan Sanae Takaichi
Di sisi lain, pelemahan mata duit yen ini nyatanya tidak sepenuhnya memberikan akibat jelek bagi korporasi kakap di Jepang. Depresiasi yen terbukti sukses mendongkrak nilai pendapatan luar negeri serta menguntungkan para eksportir besar, nan tecermin dari kokohnya performa bursa saham Jepang serta hasil survei kuartalan Tankan BOJ nan menunjukkan tingkat optimisme tinggi dari para produsen manufaktur skala besar.
Kendati demikian, beban biaya nan kudu ditanggung oleh masyarakat luas sekarang dilaporkan terus membubung tinggi di lapangan. Melemahnya nilai tukar yen secara otomatis mengerek kenaikan nilai barang-barang impor, menjepit anggaran shopping rumah tangga sipil, serta memicu lonjakan ekspektasi inflasi nan cukup berisiko.
Kondisi ini menciptakan dilema kebijakan makroekonomi nan sangat rumit bagi pemerintahan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi. Kabinet baru tersebut sekarang dipaksa bekerja ekstra keras untuk terus mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional, sembari di saat nan sama kudu menguras anggaran negara demi mengucurkan subsidi guna melindungi masyarakat dari lonjakan biaya daya dan pangan.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·