Stok Amunisi AS Menipis akibat Perangi Iran, Rudal Patriot Langka

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Stok Amunisi AS Menipis akibat Perangi Iran, Rudal Patriot Langka Ilustrasi.(Magnific)

AMERIKA Serikat (AS) dilaporkan berada di periode krisis pasokan amunisi kritis setelah menghabiskan sebagian besar stok militernya dalam bentrok nan sedang berjalan dengan Iran. Seorang analis pertahanan senior memperingatkan bahwa intensitas penggunaan senjata telah melampaui kapabilitas produksi saat ini.

Mark Cancian, pensiunan Kolonel Korps Marinir sekaligus analis pertahanan di Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengungkapkan bahwa AS telah menggunakan antara sepertiga hingga separuh dari amunisi utamanya. Ribuan rudal diluncurkan untuk serangan presisi jarak jauh serta pertahanan udara sejak fase awal bentrok di Iran.

Krisis Rudal Patriot dan Antrean Produksi

"Kami menggunakan lebih dari seribu rudal Patriot dalam perang ini. Sekutu kami di Teluk juga menggunakan banyak, sementara Ukraina terus meminta lebih. Ada permintaan produksi nan sangat besar," ujar Cancian kepada CNN.

Sistem Patriot merupakan pertahanan udara utama Angkatan Darat AS nan terdiri dari peluncur, radar, dan rudal pencegat. Namun, Departemen Pertahanan AS mencatat bahwa sistem ini berbiaya lebih dari US$1 miliar dan hanya bisa diproduksi sebanyak 600 unit per tahun. Tingginya permintaan menyebabkan antrean pesanan (backlog) nan sangat panjang.

Cancian menambahkan bahwa jika pesanan rudal Patriot dilakukan hari ini, pengiriman kemungkinan baru bisa terealisasi dalam empat hingga lima tahun ke depan akibat keterbatasan rantai produksi.

Eskalasi Militer di Selat Hormuz

Kabar mengenai menipisnya stok amunisi ini muncul setelah Presiden Donald Trump secara resmi memberi tahu personil parlemen bahwa AS kembali terlibat dalam peperangan dengan Iran. Melalui surat kepada Kongres pada 10 Juli, Trump menyatakan bahwa serangan pada 7 Juli adalah tindakan militer nan konsisten dengan tanggung jawabnya untuk melindungi kepentingan Amerika.

Pemerintah AS saat ini mempunyai jendela waktu 60 hari untuk menggunakan kekuatan militer di area tersebut tanpa persetujuan definitif dari Kongres. Konflik ini semakin memanas seiring perselisihan kedua negara atas kendali di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan daya dunia.

Pada hari Senin, Trump meningkatkan tekanan militer dengan menyatakan bahwa AS bakal memberlakukan kembali blokade dan mengambil alih Selat Hormuz guna memastikan kapal-kapal dapat melintasi perairan tersebut secara aman.

Serangan Balasan Terus Berlanjut

Pejabat Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan bahwa pasukan militer Amerika menghantam lebih dari 300 sasaran militer Iran dalam sepekan terakhir sebagai jawaban atas permusuhan Teheran. Serangan terbaru pada Senin menyasar situs drone dan sistem pertahanan pesisir Iran.

"Serangan ini bakal terus memberikan akibat berat bagi pasukan Iran dan mendegradasi keahlian mereka untuk menyerang penduduk sipil serta pelayaran komersial di Selat Hormuz," tegas pernyataan resmi Centcom.

Di sisi domestik, Trump dilaporkan geram atas kegagalan negosiator dalam mencapai kesepakatan damai, sementara Partai Republik mulai menghadapi tekanan politik akibat lonjakan nilai daya menjelang pemilihan paruh waktu. (The Daily Express/I-2)

Selengkapnya