Pekerja mengemas beras support pangan di Pergudangan Tondo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (19/8/2026). Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tengah memastikan stok beras Bulog mencapai 16.973 ton untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan dan menjamin keb(. ANTARA FOTO/Muhammad Rifki Hasan/bar/YU)
STOK beras pemerintah dipastikan kondusif mengatasi dinamika kejadian suasana El Nino. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andri Amran Sulaiman mengatakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) nan lebih dari 5 juta ton diklaim dapat meminimalisir akibat kejadian iklim, termasuk untuk musibah dan keadaan darurat.
Kepala Bapanas nan juga Menteri Pertanian itu menyatakan keseimbangan di setiap lini rantai pasok bakal terus dijaga pemerintah.
"Stok kita sekarang, (meski) ada El Nino, (jadi yang) tertinggi. Tapi alhamdulillah persediaan kita tertinggi selama Republik ini berdiri, ialah 5,1 juta ton. Harga naik, konsumen marah. Harga turun, petani marah. Harga sedang sedang, pengusaha marah. Jadi begitu berat bebannya pemerintah," kata Amran di Jakarta, Selasa (25/8).
Kendati demikian, dia menyebut terdapat tantangan kejadian suasana nan berimplikasi pada nilai beras. Kondisi nilai beras di pasar bumi saat ini dikatakan tengah menanjak, tapi Indonesia memastikan tidak boleh ada rakyat nan kelaparan lantaran stok beras nasional sangat memadai.
"Kesiapan pangan kita selesai. (Meskipun) nilai beras bumi naik, salah satu di Jepang (sampai) Rp 100 ribu per kilo. (Tapi) ada nan mengatakan, jangan bandingkan. Kalau tidak ada beras, bagaimana? Satu, (bisa) kelaparan rakyat Indonesia. Kita pastikan itu tidak terjadi," tegas Amran.
Salah satu perihal nan dipastikan adalah kesiapan beras bagi masyarakat nan terdampak musibah alam. Pasokan beras bakal digelontorkan Perum Bulog. Saat ini pemerintah tetap terus bahu-membahu membantu masyarakat terdampak musibah gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Per 24 Agustus 2026, sambung dia, Bapanas telah menambahkan alokasi support beras musibah dan support pangan beras reguler hingga total menjadi 9,98 ribu ton bagi 7 kabupaten terdampak di NTT dengan nilai nan diperkirakan mencapai Rp139 miliar. Adapun 9,98 ribu ton tersebut terdiri dari alokasi 1,32 ribu ton nan merupakan program support musibah dan 8,65 ribu ton nan merupakan program support pangan beras reguler.
Adapun alokasi 1,32 ribu ton support musibah berasal dari kalkulasi 265.375 jiwa dengan 300 gram beras per orang per hari selama 14 hari masa tanggap darurat di tahap pertama ini. Namun, demi memudahkan distribusi, melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2026 telah diatur jumlah beras program support musibah dapat menjadi 5 kilogram (kg) per jiwa untuk alokasi 14 hari tanggap darurat.(H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·