Strategi Antisipasi Dampak El Nino terhadap Pangan di Banyumas Raya

2 jam yang lalu 4
Strategi Antisipasi Dampak El Nino terhadap Pangan di Banyumas Raya (MI/Lilik Darmawan)

KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto, Jawa Tengah, berbareng pemerintah wilayah dan pemangku kepentingan mengenai memperkuat langkah mitigasi guna mengantisipasi akibat kejadian El Nino. Strategi ini disiapkan untuk menghadapi potensi musim tandus panjang nan dapat mengganggu stabilitas pangan di wilayah Banyumas Raya.

Kepala KPwBI Purwokerto, Aswin Gantina, menjelaskan bahwa langkah antisipasi dilakukan secara komprehensif dari sektor hulu hingga hilir. Fokus utamanya adalah menjaga produktivitas pertanian, memastikan kesiapan pasokan, serta menjaga stabilitas nilai pangan di pasar.

Mitigasi Sektor Hulu dan Digital Farming

Di sektor hulu, BI Purwokerto mendorong optimasi prasarana pertanian seperti jaringan irigasi dan pompanisasi. Pengelolaan sumber air secara efektif menjadi kunci di tengah ancaman kekeringan. Selain itu, petani diarahkan untuk menggunakan varietas tanaman nan lebih adaptif terhadap kondisi kering.

"Kami juga mendorong pengembangan sentra pangan, optimasi lahan, serta pemberdayaan petani muda melalui penerapan teknologi digital farming. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pasokan di tengah tantangan iklim," ujar Aswin pada Senin (24/8).

Pendampingan intensif juga diberikan kepada golongan tani dan lingkungan pesantren untuk pengembangan komoditas pangan strategis. Dari sisi distribusi, BI memperkuat kerja sama antardaerah melalui skema Government to Government (G2G) dan Business to Business (B2B) di wilayah Banyumas Raya.

Stabilitas Harga dan Strategi 4K

Untuk menjaga keterjangkauan nilai bagi masyarakat, KPwBI Purwokerto mengandalkan operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, serta penguatan jaringan Toko Tani. Pengawasan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) juga diperketat untuk mencegah spekulasi harga.

Aswin menambahkan, pengendalian inflasi wilayah dilakukan melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan strategi 4K:

  • Keterjangkauan harga.
  • Ketersediaan pasokan.
  • Kelancaran distribusi.
  • Komunikasi efektif dalam kerangka Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Meski ada ancaman El Nino, Aswin optimistis dampaknya tidak bakal terlalu signifikan bagi Banyumas Raya nan meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Hal ini didukung oleh kondisi pertanian nan tetap terjaga dan berlangsungnya puncak panen padi musim tanam kedua.

Peringatan Dini Kekeringan BMKG

Di sisi lain, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memberikan peringatan mengenai kondisi kekeringan meteorologis. Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Tjiptanto, menyebut kesempatan curah hujan rendah (di bawah 50 mm per dasarian) di Jawa Tengah mencapai lebih dari 90 persen hingga akhir Agustus.

Status Peringatan Kekeringan Jawa Tengah (21-31 Agustus 2026):

  • Status Awas (Tidak hujan >61 hari): Cilacap, Demak, Kudus, Grobogan, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, dan Wonogiri.
  • Status Siaga (Tidak hujan >31 hari): Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, dan Sukoharjo.
  • Status Waspada (Tidak hujan >21 hari): Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta.

Goeroeh mengimbau masyarakat di wilayah berstatus Waspada untuk mulai menghemat penggunaan air. Sementara untuk wilayah Siaga dan Awas, penyusutan sumber air seperti embung dan sungai mulai terjadi, sehingga pengelolaan irigasi kudu dilakukan secara ketat.

BMKG menyarankan para petani, terutama di lahan tadah hujan, untuk tidak memaksakan penanaman komoditas nan memerlukan banyak air dan beranjak ke tanaman nan lebih tahan kekeringan guna meminimalkan akibat kandas panen. (I-2)

Selengkapnya