Strategi Militer Iran Dapat Ditiru Tiongkok untuk Kalahkan AS

1 jam yang lalu 2
Strategi Militer Iran Dapat Ditiru Tiongkok untuk Kalahkan AS Ilustrasi.(Magnific)

PERANG antara Amerika Serikat dan Iran pada 2026 menyajikan hasil geopolitik nan luar biasa sekaligus membingungkan. Terlepas dari segala kekuatan keras (hard power) nan dimilikinya, AS terbukti tidak bisa memaksakan hasil nan menentukan terhadap Iran.

Saat ini, Presiden Donald Trump tampaknya bakal menerima kesepakatan pengakhiran perang nan nyaris tidak mencakup satu pun dari tujuan perang nan dia canangkan sebelumnya.

Batas Kekuatan Udara dan Keengganan Invasi

Penyebab utama dari kebuntuan ini adalah ketidaksediaan Trump untuk melakukan invasi darat guna memaksa Iran menyerah secara total. Selain itu, terdapat keterbatasan pada aset udara AS--baik rudal maupun pencegat rudal--yang secara drastis mengurangi opsi serangan udara setelah berbulan-bulan melancarkan serangan nan tidak membuahkan hasil signifikan.

Kondisi ini menjadi pelajaran kritis bagi AS dan sekutunya. Masalahnya, AS berencana menggunakan pola serupa jika kudu menghadapi Tiongkok di Asia Timur. Iran sukses menggunakan teknologi anti-access/area-denial (A2/AD) untuk membatasi ruang mobilitas Angkatan Laut AS di area tersebut.

Kekuatan udara dan laut Iran nan relatif murah--seperti drone, ranjau, dan rudal--membuat akibat terlalu besar bagi Angkatan Laut AS untuk membuka Selat Hormuz alias beraksi di dekat pantai Iran.

Catatan Strategis: Tiongkok, dengan sumber daya dan kecanggihan nan jauh lebih besar, nyaris dipastikan dapat menerapkan strategi serupa dengan efektivitas nan jauh lebih tinggi dibandingkan Iran.

Iran Dianggap tidak Sebanding dengan Risikonya

AS dinilai tengah menghamburkan stok senjata berbobot dalam bentrok nan susah dimenangkan dan tidak mendesak. Kekuatan udara mempunyai pemisah koersif nan terbukti berulang kali dalam sejarah. Trump tidak bakal bisa memaksakan kemenangan hanya melalui serangan udara, tetapi ia juga tidak bakal menginvasi Iran.

Invasi darat untuk menghancurkan kapabilitas pemerintah Iran berisiko tinggi menjerumuskan AS ke dalam perang abadi (forever war) seperti di Irak. Hal tersebut berpotensi menghancurkan kepresidenan dan warisan politik Trump, sebagaimana kegagalan di Vietnam menghancurkan Lyndon Johnson.

Bagi Trump, taruhan di Iran tergolong rendah. Kemenangan Iran bukan merupakan kerugian eksistensial bagi AS, meski nilai bensin mungkin bakal naik akibat kontrol Iran atas selat tersebut.

Meskipun taruhannya sangat tinggi bagi mitra lokal seperti Israel, Arab Saudi, dan Kuwait, Trump sebagai Presiden AS tampaknya enggan mengambil akibat besar (invasi) demi kepentingan pihak asing.

Ancaman Hegemoni Tiongkok di Eurasia

Berbeda dengan Iran, persaingan dengan Tiongkok dianggap jauh lebih berbobot dan krusial. Dominasi regional Tiongkok di Asia Timur bakal jauh lebih menakut-nakuti kepentingan AS dibandingkan hegemoni Iran di Teluk Persia. Strategi besar AS sejak era Nicholas Spykman adalah mencegah munculnya hegemon di kedua ujung Eurasia.

Dominasi di area industri nan kaya ini dapat menciptakan pesaing setara (peer competitor) nan cukup besar untuk menakut-nakuti daratan AS. Saat ini, Rusia tidak lagi dianggap sebagai ancaman hegemonik di Barat lantaran Uni Eropa mempunyai sumber daya untuk membendungnya. Namun di Timur, sekutu AS lebih sedikit, lebih kecil, dan sering berselisih.

Sinyal Kelemahan bagi Sekutu

Di bawah kepemimpinan Trump, sekutu-sekutu AS di Asia mulai meragukan kapabilitas dan tekad Washington. Serangan retoris Trump terhadap sekutu dan pelanggaran perjanjian jual beli melalui tarif memberikan sinyal bahwa AS tidak dapat diandalkan. Kekalahan strategis dalam perang Iran semakin memperkuat persepsi bahwa AS mungkin tidak mempunyai keahlian teknis untuk bertindak, apalagi jika mereka mempunyai kemauan.

Tiongkok diprediksi bakal meniru kitab panduan Iran: menggunakan aset udara dan laut otomatis nan murah tetapi masif untuk memukul mundur alias menenggelamkan armada permukaan AS nan besar dan lambat. Penggunaan aset-aset canggih AS nan berlebihan di Teluk Persia menunjukkan sungguh tidak siapnya Pentagon menghadapi era baru peperangan drone nan murah ini. (19FortyFive/I-2)

Selengkapnya