Sosialisasi ancaman kental manis di Bandung Barat.(MI/HO)
KABUPATEN Bandung Barat (KBB) sekarang tengah menghadapi tantangan besar dalam sektor kesehatan masyarakat. Berdasarkan info terbaru, KBB menempati posisi tiga besar dengan sebaran kasus stunting tertinggi dari 27 kota/kabupaten di Jawa Barat. Salah satu pemicu utama nan ditemukan di lapangan adalah tetap kuatnya persepsi keliru masyarakat nan menganggap kental manis sebagai asupan susu harian untuk anak.
Persoalan mendesak ini mengemuka dalam pertemuan antara Pemerintah Daerah KBB berbareng Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Muslimat NU. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bandung Barat Drs. H. Asep Ismail, M.Si., Sekretaris Daerah Ade Zakir, serta Kabag Kesra Hasanudin, S.Pd. M. M.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, menegaskan bahwa edukasi mengenai kental manis kudu masif dilakukan.
"Pemahaman kental manis itu sejatinya bukan merupakan susu untuk pemenuhan gizi anak. Dampak dari konsumsi ini kudu terus disampaikan lantaran tetap banyak ibu muda nan salah informasi," ujarnya.
Temuan Lapangan: Kental Manis dan Pola Makan Buruk
YAICI berbareng Muslimat NU melakukan penelusuran langsung di wilayah Batujajar dan menemukan kebenaran memprihatinkan mengenai pola asuh dan konsumsi anak nan terindikasi stunting. Berikut adalah ringkasan temuan tersebut:
| Kasus 1 | Anak bungsu terindikasi stunting. | Kental manis digunakan sebagai pengganti susu harian dan topping makanan agar rasa tidak hambar. |
| Kasus 2 | Usia 2 tahun, bentuk mini dan pendek (stunting). | Lepas ASI sejak dini, rutin mengonsumsi jajanan pasar dan kental manis sejak usia 1 tahun. |
| Kasus 3 | Lahir prematur, riwayat gangguan pernapasan. | Rutin mengonsumsi minuman UHT dan kental manis; dibiarkan jajan berdikari sejak usia 1 tahun. |
Intervensi di Tingkat Kecamatan
Kecamatan Batujajar, dengan populasi mencapai 120.000 jiwa, menjadi salah satu titik konsentrasi intervensi. Camat Batujajar, Andi M. Hikmat, S.STP., mengungkapkan bahwa berasas info puskesmas, terdapat 158 anak nan terindikasi stunting di wilayahnya.
Andi mengakui bahwa edukasi mengenai kental manis menjadi pengetahuan baru nan sangat krusial bagi jajarannya. Selama ini, program perbaikan gizi di tingkat kecamatan lebih banyak berfokus pada pemberian telur harian.
Data Kesehatan Kecamatan Batujajar:
- Total Populasi: 120.000 Jiwa (7 Desa)
- Anak Terindikasi Stunting: 158 Anak
- Prioritas Program: Penanganan Stunting dan Tuberculosis (TB)
Menurut Andi, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan alokasi anggaran semata, tetapi memerlukan pendekatan emosional.
"Penanganan stunting nan dibutuhkan ialah gimana mengurus dengan hati. Ini bukan hanya soal hari ini, tapi soal masa depan kepintaran mereka," tegasnya.
Pemerintah Kecamatan Batujajar mengapresiasi langkah YAICI dan Muslimat NU dalam mengungkap kebenaran lapangan ini. Kedepannya, hasil temuan ini bakal dijadikan dasar kebijakan untuk memperkuat gotong royong antarwarga dalam memperbaiki gizi anak di lingkungan masing-masing. (Z-1)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·