Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Metropolitan Tokyo, Jepang, kembali menggelontorkan insentif besar untuk mendorong masyarakat beranjak ke kendaraan listrik (EV). Subsidi nan diberikan apalagi dapat memangkas nilai sebuah mobil listrik (electric vehicle/ EV) Toyota hingga lebih dari separuh nilai normalnya.
Di bawah skema terbaru, subsidi pembelian EV di Tokyo ditingkatkan hingga 1,3 juta yen alias sekitar US$8.160 setara Rp133 juta per kendaraan. Sementara untuk mobil hybrid, insentif maksimal mencapai 1,15 juta yen alias sekitar US$7.220. Kenaikan masing-masing mencapai 300.000 yen alias sekitar US$1.880. Program ini dapat dimanfaatkan perseorangan maupun perusahaan dan tidak membatasi jumlah kendaraan nan dapat memperoleh subsidi.
Dilansir dari Carscoops, Pemerintah Tokyo juga mempertahankan sejumlah insentif tambahan. Konsumen bisa memperoleh 100.000 yen alias sekitar US$620 untuk kendaraan nan mempunyai fitur vehicle-to-load (V2L). Ada pula subsidi 100.000 yen untuk pemasangan perangkat pengisian dan penyaluran listrik kendaraan.
Selain itu, masyarakat nan menggunakan penyedia listrik dengan sumber daya 100% terbarukan dapat memperoleh tambahan 150.000 yen alias sekitar US$940. Pembeli EV dan hybrid juga berkesempatan mendapatkan tambahan 300.000 yen alias sekitar US$1.884 andaikan rumah alias tempat kerjanya menggunakan tenaga surya.
Besaran subsidi juga berbeda berasas merek kendaraan.
Berdasarkan laporan Nikkei Asia, model Toyota, Nissan, dan Honda berkuasa memperoleh subsidi tambahan sebesar 400.000 yen alias sekitar US$2.510. Sementara kendaraan Mitsubishi, BMW, Mercedes-Benz, dan Tesla mendapatkan 300.000 yen alias sekitar US$1.880.
Untuk mobil listrik BYD, subsidi tambahan dari kategori tersebut hanya 100.000 yen alias sekitar US$620, sedangkan Daihatsu saat ini tidak mendapatkan subsidi tambahan berbasis produsen.
Besaran insentif juga dapat bertambah berasas keahlian penjualan masing-masing produsen. Pabrikan nan sukses menjual sedikitnya 60 kendaraan tanpa emisi baru di wilayah Tokyo sepanjang 2025 dapat memperoleh tambahan insentif. Ada pula insentif hingga 200.000 yen alias sekitar US$1.250 melalui kategori nan disebut sebagai "transformasi hijau" alias green transformation.
Insentif dari pemerintah Tokyo tersebut dapat ditumpuk dengan subsidi nan diberikan pemerintah pusat Jepang.
Pemerintah nasional juga menyediakan insentif hingga 1,3 juta yen alias sekitar US$8.160. Namun, besarannya kembali berjuntai pada jenis kendaraan, dengan mobil nan menggunakan baterai produksi Jepang berkesempatan memperoleh subsidi terbesar.
Sementara kendaraan BYD mendapatkan subsidi nasional minimal 150.000 yen alias sekitar US$940. Selisih subsidi nasional antara kendaraan nan memperoleh insentif maksimum dan BYD dapat mencapai 1,15 juta yen alias sekitar US$7.220.
Toyota bZ4X menjadi salah satu model nan dapat memperoleh subsidi nasional maksimum sebesar 1,3 juta yen. Jika digabungkan dengan insentif maksimum dari Tokyo, total subsidi nan bisa diterima mencapai 2,6 juta yen alias sekitar US$16.320.
Dengan nilai awal 4,8 juta yen alias sekitar US$30.150, nilai Toyota bZ4X secara teoritis dapat turun menjadi sekitar 2,2 juta yen alias US$13.820 setelah memperoleh kombinasi subsidi tersebut. Artinya, konsumen bisa mendapatkan potongan sekitar 2,6 juta yen alias lebih dari separuh nilai kendaraan.
Kebijakan ini diharapkan bisa mendongkrak penjualan kendaraan listrik di Jepang. Pasalnya, nilai EV nan relatif lebih mahal dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal menjadi salah satu tantangan utama. Pada 2025, kendaraan listrik hanya menyumbang sekitar 1,6% dari total penjualan mobil baru di Jepang.
Tesla juga memandang kesempatan besar dari kebijakan subsidi tersebut. Mengutip Nikkei Asia, Tesla menjual lebih dari 10.000 kendaraan di Jepang sepanjang 2025, jauh melampaui rekor sebelumnya sekitar 5.900 unit pada 2022. Penjualan Tesla apalagi semakin meningkat pada 2026, dengan sekitar 12.000 kendaraan terjual hanya dalam enam bulan pertama tahun ini.
Tesla sekarang menghentikan penjualan sejumlah model premiumnya seperti Model S dan lebih konsentrasi pada kendaraan dengan pasar nan lebih luas, ialah Model 3 dan Model Y. Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan, Tesla bakal memperluas jaringan pengiriman dari tujuh letak menjadi 11 letak hingga akhir 2026.
Perusahaan tersebut juga telah menggandakan kapabilitas impor potensialnya menjadi sekitar 48.000 kendaraan per tahun. Kapasitas itu dinilai tetap cukup lenggang untuk mengakomodasi pertumbuhan penjualan Tesla di Jepang, apalagi jika tren peningkatan permintaan terus berlanjut.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·