Survei Terbaru "Tampar" Trump, Warga AS Kian Muak dengan Perang Iran

6 jam yang lalu 14
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dukungan publik Amerika Serikat (AS) terhadap perang melawan Iran terus merosot. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sepertiga penduduk AS nan tetap mendukung bentrok tersebut, sementara kebanyakan menilai Presiden Donald Trump kandas menjelaskan tujuan keterlibatan militer Washington.

Survei nan dilakukan pada Jumat hingga Minggu (26/7/2026) itu mencatat support terhadap perang Iran berada di level terendah sejak fase awal bentrok nan telah berjalan selama lima bulan. Adapun survei ini dilakukan secara daring di seluruh wilayah AS terhadap 1.246 orang dewasa dan mempunyai margin of error sekitar 3 poin persentase.

Hasil survei menunjukkan 69% penduduk AS, termasuk empat dari setiap 10 pemilih Partai Republik, menilai Trump belum menjelaskan secara jelas argumen dan sasaran keterlibatan militer AS di Iran.

Di saat support terhadap perang menurun, tingkat persetujuan terhadap keahlian Trump justru sedikit naik menjadi 37%, meningkat tiga poin dibanding bulan lampau ketika angkanya menyamai level terendah sepanjang masa kepresidenannya.

Mengutip Reuters, Senin (28/7/2026), Trump selama beberapa bulan terakhir menyampaikan tujuan perang nan berubah-ubah. Mulai dari membantu rakyat Iran menggulingkan pemimpinnya, menghancurkan keahlian rudal balistik Teheran, hingga mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Meski demikian, kebanyakan publik tetap merasa tujuan tersebut tidak disampaikan secara jelas.

Juru Bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan Trump tidak bakal mengambil keputusan berasas hasil survei nan berubah-ubah dan menegaskan kembali komitmen presiden untuk mencegah Iran mempunyai senjata nuklir.

"Yang paling krusial bagi rakyat Amerika adalah mempunyai seorang panglima tertinggi nan mengambil tindakan tegas untuk menjaga keamanan mereka," kata Wales.

Perang Irak dan Afghanistan

Reuters mencatat tingkat support terhadap perang Iran tidak pernah menembus 40% sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari lalu.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan support publik terhadap konflik-konflik besar sebelumnya.

Pada bulan-bulan awal Perang Irak nan berjalan pada 2003-2011, sekitar 70% penduduk AS mendukung operasi militer tersebut.

Sementara pada awal Perang Afghanistan nan berjalan selama dua dasawarsa sejak 2001 hingga 2021, sekitar 90% penduduk AS mendukung perang, berasas info Gallup.

Alasan Perang

Penolakan publik terhadap perang mulai menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela Kongres pada November mendatang. Dalam pemilu tersebut, sekutu Trump bakal mempertahankan kebanyakan tipis mereka di Kongres AS.

Salah satu bunyi kritis datang dari Alex Womack, pensiunan teknisi perbaikan turbin dari Stockbridge, Georgia.

Womack mengatakan dirinya menjadi pendukung Partai Republik antara lain lantaran mengagumi langkah Presiden George H.W. Bush menangani Perang Teluk pada 1991. Namun, perang Iran membikin dukungannya terhadap Trump mulai memudar.

"Tidak jelas kenapa kita memulai perang dengan mereka. Saya sama sekali tidak tahu," ujarnya.

Womack nan pernah bekerja di Korps Marinir AS saat Perang Teluk juga mengkritik keahlian Trump. "Menurut saya secara pribadi dia tidak melakukannya dengan baik."

Korban Jiwa Bertambah, Harga BBM Melonjak

Hingga saat ini, sebanyak 18 tentara AS dilaporkan tewas dalam bentrok tersebut. Di sisi lain, ribuan orang telah meninggal di Iran maupun Lebanon, tempat kelompok-kelompok sekutu Iran terlibat pertempuran melawan pasukan Israel.

Perang juga memukul kondisi ekonomi masyarakat AS melalui lonjakan nilai bahan bakar.

Harga bensin nasional sekarang rata-rata berada sedikit di atas US$4 per galon, naik dari sekitar US$3 per galon sebelum perang dimulai pada 28 Februari.

Menurut mahir strategi politik Partai Republik Alex Conant, kondisi tersebut memperburuk posisi politik Partai Republik.

"Ini memberi tekanan kepada partai dalam beragam cara, dan semuanya buruk," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa Gedung Putih sebenarnya mau memenangkan perdebatan soal ekonomi sejak awal tahun, namun konsentrasi perang membikin upaya tersebut semakin sulit.

Sikap Pemilih Independen

Survei Reuters/Ipsos juga menemukan bahwa pemilih independen nan terdaftar sekarang lebih condong mendukung kandidat Kongres dari Partai Demokrat dibanding Republik.

Sebanyak 36% pemilih independen memilih kandidat Demokrat, sementara hanya 20% nan memilih kandidat Republik.

Kelompok pemilih independen juga lebih mempercayai Demokrat dibanding Republik dalam urusan kebijakan ekonomi.

Janji Trump

Saat berkampanye pada Pilpres 2024, Trump berulang kali berjanji bakal menjauhkan AS dari bentrok berkepanjangan di luar negeri.

Pada awal perang, dia memperkirakan bentrok Iran hanya bakal berjalan empat hingga lima minggu. Namun hingga sekarang perang tetap bersambung tanpa tanda-tanda berakhir.

Trump juga beberapa kali menolak komparasi bentrok Iran dengan perang-perang panjang AS sebelumnya, termasuk Perang Vietnam nan berjalan selama dua dasawarsa dan menewaskan lebih dari 58.000 tentara Amerika.

Rhyan Anderson, pemilih independen dari Fairburn, Georgia, nan mendukung Trump pada Pilpres 2024, mengatakan presiden semestinya lebih konsentrasi menyelesaikan persoalan dalam negeri dibanding membantu Israel alias sekutu lainnya.

"Hal terbesar bagi saya adalah konsentrasi pada orang-orang nan betul-betul berada di negara ini," katanya.

Anderson nan bekerja di dua pekerjaan sekaligus di bagian keamanan dan pengumpulan info mengaku sebelumnya memilih Joe Biden pada 2020.

"Saya tahu kita punya sekutu dan hal-hal seperti itu, tetapi ada banyak orang di sini nan betul-betul memerlukan bantuan."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya