Tangerang Petakan Zona Rawan Kekeringan di 8 Kecamatan

1 jam yang lalu 3
Tangerang Petakan Zona Rawan Kekeringan di 8 Kecamatan Ilustrasi: Seorang petani menggembalakan kambing di area persawahan nan retak dan mengering akibat musim tandus di Desa Patrasana, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (4/8/2026).(MI/AGUNG WIBOWO)

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Tangerang memetakan tiga area pengawasan wilayah berpotensi terdampak kekeringan berasas kajian hidrometeorologi. Pemetaan ini dilakukan guna memastikan langkah penanganan akibat musim kemarau melangkah lebih sigap dan tepat sasaran.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar membeberkan, area pertama nan menjadi perhatian utama kesiapsiagaan meliputi Kecamatan Batuceper, Neglasari, dan Cipondoh.

Sementara area kedua mencakup Kecamatan Jatiuwung dan Cibodas. Adapun area ketiga meliputi Kecamatan Pinang, Ciledug, serta Karang Tengah.

"Untuk wilayah nan telah ditetapkan masuk dalam zona, menjadi prioritas untuk dipantau secara berkala dari kondisi kesiapan air maupun potensi kebakaran," kata Mahdiar dalam keterangan resminya di Tangerang, Rabu (5/8).

Selain memperketat pemantauan wilayah, Pemkot Tangerang telah menyiapkan serangkaian strategi mitigasi lintas sektor. Jajaran TNI melalui Koramil menyiagakan delapan unit mobil tangki air bersih untuk disalurkan ke pemukiman penduduk andaikan krisis air mulai melanda.

Dari unsur kepolisian, Polres Metro Tangerang Kota menerjunkan 95 personel di tingkat Polsek serta memfungsikan armada Armoured Water Cannon (AWC) guna mendukung pemadaman kebakaran.

Di sektor pelayanan pasokan air, Perumda Tirta Benteng menjamin kesiapan air bersih bagi pengguna tetap aman. Meski sumber air baku nan mengandalkan Sungai Cisadane mengalami penurunan debit sekitar lima persen akibat kemarau, kualitas dan pasokannya dipastikan tetap mencukupi.

Guna memperkuat prasarana pendukung, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang menyiapkan 30 unit tandon air untuk pengedaran air bersih dan penanganan darurat kebakaran.

"Selain itu, jaringan hydrant di beragam wilayah terus dipastikan berfaedah optimal untuk mendukung perlindungan permukiman dan akomodasi umum," jelas Mahdiar.

Langkah taktis ini diambil merespons kajian BMKG nan memprediksi Kota Tangerang tetap berada dalam puncak musim tandus dengan intensitas curah hujan rendah hingga September 2026.

"Fenomena El Nino nan tetap aktif turut meningkatkan potensi terjadinya kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah, sehingga diperlukan kewaspadaan dari seluruh komponen masyarakat," pungkasnya. (Ant/P-4)

Selengkapnya