Teknologi Tepat Guna Dorong Kelurahan Gedog Jadi Sentra Ekonomi Sirkular dan Produk Inovatif

1 jam yang lalu 3
Teknologi Tepat Guna Dorong Kelurahan Gedog Jadi Sentra Ekonomi Sirkular dan Produk Inovatif Tim pengabdian Unisba Blitar dan Universitas Widyagama Malang.(Dok.Unisba)

UPAYA membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal terus dilakukan di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. 

Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Desa Binaan Tahun II dengan tujuan tingkatkan kapabilitas Produksi dan manajemen pada mitra, tim pengabdian Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar dan Universitas Widyagama Malang melaksanakan rangkaian sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada masyarakat dan dua golongan mitra, ialah Bank Sampah Gong Lestari dan Pokmas Hidrofarm.

Program nan mengusung pengembangan ekonomi sirkular melalui produk konversi limbah plastik dan ekstraksi minyak sereh merah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapabilitas produksi, keahlian masyarakat, pengelolaan usaha, serta pemasaran produk berbasis potensi lokal.

Ketua Program, Palupi Puspitorini, mengatakan bahwa aktivitas tidak berakhir pada pemberian teknologi, tetapi diarahkan agar masyarakat bisa mengoperasikan teknologi, mengembangkan produk, sekaligus mengelola upaya secara berdikari secara berkepanjangan untuk meningkatkan kapabilitas ekonominya.

“Kami mau teknologi tepat guna nan diberikan betul-betul menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, pendekatannya bukan hanya sosialisasi dan pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan praktik serta pendampingan agar mitra bisa menerapkan teknologi, menghasilkan produk, dan mengembangkan pemasarannya secara mandiri,” ujar Palupi.

MITRA BANK SAMPAH
Pada mitra Bank Sampah Gong Lestari, program difokuskan pada penguatan pengelolaan sampah plastik melalui prinsip reduce, reuse, recycle (3R). Sampah nan sebelumnya hanya dikumpulkan dan dijual dalam corak glondong sekarang dikembangkan melalui teknologi pencacahan alias crushing menjadi plastic flakes. Data hasil penyelenggaraan menunjukkan adanya peningkatan produksi dari lebih dari 75%. Lebih signifikan lagi, nilai jual meningkat sehingga berakibat padapeningkatan pendapatan mitra. 

Pelatihan juga meningkatkan pemahaman personil mengenai teknik pengolahan plastik. Hasil pertimbangan menunjukkan rata-rata peningkatan pemahaman sebesar 55%, dengan peningkatan terbesar pada aspek langkah pembuatan plastik crushing sebesar 75%. 

Ketua Bank Sampah Gong Lestari, Ibu Sutji Pudjiastuti, menyambut positif pendampingan nan dilakukan tim Unisba. “Dengan adanya pendampingan ini, kami tidak hanya belajar mengelola sampah, tetapi juga memandang bahwa sampah plastik bisa menjadi bahan nan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Mesin pencacah membantu kami meningkatkan kapabilitas produksi, sementara pendampingan membuka wawasan untuk mengembangkan produk dan pemasaran.”

Menurutnya, keberadaan teknologi tersebut memberikan motivasi kepada personil untuk semakin aktif melakukan pemilahan dan pengolahan sampah. Sementara itu, Pokmas Hidrofarm mendapatkan pendampingan dalam pengembangan budidaya sereh merah hingga diversifikasi produk turunannya.

PELAKSANAAN LATIHAN
Pelatihan dilakukan mulai dari teknik budidaya, pembibitan dan pemeliharaan, hingga proses ekstraksi menggunakan peralatan distilasi. Tidak berakhir pada produksi minyak, tim juga memberikan training pembuatan produk turunan berupa lilin aromaterapi dan parfum/reed diffuser. Hasil penyelenggaraan menunjukkan produksi masing-masing mencapai 200 botol, dengan pendapatan produk sebesar Rp5 juta. 

Ketua Pokmas Hidrofarm, Andi Ahmad Setyobudi, mengungkapkan bahwa pendampingan memberikan pengalaman baru bagi personil dalam mengembangkan produk pertanian menjadi produk agroindustri.

“Pendampingan ini sangat membantu kami lantaran sebelumnya kami lebih banyak berfokus pada bahan baku dan minyak sereh. Sekarang kami belajar mengembangkan minyak sereh menjadi produk nan lebih siap dipasarkan, seperti lilin aromaterapi dan reed diffuser berbahan baku minyak sereh merah. Kami juga belajar tentang pencatatan upaya dan pemasaran digital," ujar Andi Ahmad.

Program tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Aspek manajemen upaya dan sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Pelatihan manajemen keuangan, pencatatan produksi dan penjualan, penetapan sasaran produksi, serta digital marketing diberikan kepada golongan mitra.

Pada Pokmas Hidrofarm, pemahaman peserta mengenai minyak sereh meningkat rata-rata 48%, sedangkan pemahaman mengenai teknik penyulingan meningkat hingga 80%. Tingkat partisipasi personil mencapai 75%, melampaui sasaran 70%. 

Pemasaran digital juga mulai memperluas jangkauan produk Hidrofarm. Produk minyak sereh merah, reed diffuser, dan lilin aromaterapi tidak lagi hanya diarahkan untuk pasar lokal Blitar, tetapi mulai diperkenalkan ke wilayah Malang, Kediri, Surabaya, dan Yogyakarta melalui media digital. 

KELURAHAN BERDAMPAK
Lurah Gedog, Yulian Nurdin Ahmad, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan program nan melibatkan masyarakat secara langsung. “Kami sangat mengapresiasi aktivitas nan dilakukan di Kelurahan Gedog. Program ini memberikan faedah nyata lantaran masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mendapatkan keahlian dan pendampingan untuk mengembangkan potensi nan ada di wilayah kami. Bank sampah dan golongan Hidrofarm menjadi contoh bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif.”

Menurutnya, kerjasama antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, golongan masyarakat, dan pelaku upaya menjadi modal krusial untuk membangun keberlanjutan program.

“Harapan kami, aktivitas ini terus berkembang sehingga Kelurahan Gedog betul-betul menjadi kelurahan nan berdampak, baik dari sisi lingkungan, sosial maupun ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Ketua Program, Ir. Palupi Puspitorini, MP, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah perangkat alias produk nan dihasilkan, tetapi dari keahlian mitra untuk melanjutkan aktivitas secara mandiri.

“Ukuran keberhasilan kami adalah ketika golongan bisa melanjutkan proses produksi, mengelola usahanya, menjaga kualitas produk, dan memperluas pasar tanpa selalu berjuntai pada tim pendamping. Teknologi kudu menjadi perangkat untuk membangun kemandirian masyarakat,” jelasnya.

Hasil penyelenggaraan program menunjukkan bahwa kedua mitra telah mengalami perubahan pada aspek produksi, manajemen, sosial budaya, dan ekonomi. Bank Sampah Gong Lestari bisa meningkatkan nilai ekonomi pengolahan plastik, sementara Pokmas Hidrofarm sukses mengembangkan rantai upaya dari budidaya sereh merah, produksi minyak atsiri hingga produk turunannya. 

EKONOMI SIRKULAR
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ekonomi sirkular dapat dikembangkan dari tingkat masyarakat melalui pemanfaatan limbah dan potensi pertanian lokal. 

Bank Sampah Gong Lestari mengubah limbah plastik menjadi sumber daya ekonomi, sedangkan Hidrofarm mengembangkan komoditas sereh merah menjadi produk agroindustri berbobot tambah. 

Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, golongan masyarakat, dan mitra usaha, Kelurahan Gedog diharapkan semakin berkembang sebagai area pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna, ekonomi sirkular, dan penemuan produk lokal.

Program ini membuktikan: ketika teknologi berjumpa dengan pendampingan dan potensi lokal, sampah dapat menjadi rupiah dan tanaman sereh dapat menjadi produk berbobot tambah. (E-2)

Selengkapnya