Teleskop Hubble Temukan Bukti Tabrakan Purba yang Mengubah Galaksi Bima Sakti

49 menit yang lalu 1
Teleskop Hubble Temukan Bukti Tabrakan Purba nan Mengubah Galaksi Bima Sakti Ilustrasi karya seniman tentang galaksi kerdil LKH (kiri) nan berasosiasi dengan Bima Sakti muda, nan belum berbentuk spiral 11,8 miliar tahun nan lalu.(NASA/ESA/Joseph Olmsted (STScI))

PENGAMATAN menggunakan Teleskop Antariksa Hubble sukses mengungkap bukti baru mengenai sejarah pembentukan Galaksi Bima Sakti. Para astronom menemukan galaksi tempat tinggal manusia ini pernah mengalami tumbukan dan penggabungan berskala besar dengan sebuah galaksi katai sekitar 11,8 miliar tahun lalu.

Penggabungan antar-galaksi merupakan salah satu langkah utama bagi sebuah galaksi untuk tumbuh dan berkembang. Namun, memetakan sejarah masa lampau Bima Sakti memerlukan kajian mendalam terhadap sisa-sisa objek purba nan tersebar di dalamnya.

"Rumah kita adalah galaksi Bima Sakti, tetapi kita tidak tahu gimana rumah kita dibangun," ujar Davide Massari dari Astrophysics and Space Science Observatory of Bologna di Italia, nan memimpin studi tersebut.

"Dalam makalah ini, kami menemukan dari mana asal tumpukan batu bata signifikan pertama: sebuah galaksi katai nan kami sebut LKH," tambahnya.

Nama LKH merupakan singkatan dari Low-energy–Kraken–Heracles, merujuk pada tiga penelitian terdahulu nan mengkaji pendapat mengenai penggabungan galaksi pada masa awal sejarah Bima Sakti.

Dalam studi ini, tim intelektual sukses mengidentifikasi populasi gugus bintang bola (globular cluster) nan tidak berasal dari Bima Sakti maupun dari galaksi Gaia-Sausage-Enceladus (GSE), galaksi lain nan menabrak Bima Sakti sekitar 10 miliar tahun lalu. Populasi ini diketahui berasal dari galaksi LKH dan menyatu dengan Bima Sakti 11,8 miliar tahun lalu.

"Berkat resolusi tinggi dan kedalaman pencitraan Hubble, kami dapat mengukur usia dan kandungan logam dari gugus-gugus ini dengan presisi nan belum pernah ada sebelumnya," kata Chiara Zerbinati, astronom dari University of Bologna nan turut menyusun penelitian tersebut.

"Dipadukan dengan pengukuran dari misi [Badan Antariksa Eropa] Gaia, perihal ini memungkinkan untuk membedakan populasi gugus bintang bola nan berbeda dari nan lain. Ini adalah gugus nan lahir di LKH dan memberi tahu kita kapan galaksi itu dilahap oleh galaksi kita, serta seberapa masif galaksi tersebut," jelas Zerbinati.

Berdasarkan kajian tersebut, tim peneliti menghitung bahwa galaksi LKH mempunyai total massa setara 500 juta kali massa matahari. Meski tergolong mini untuk ukuran saat ini, nomor tersebut menyumbang porsi materi nan sangat besar bagi Bima Sakti nan saat itu baru berumur dua miliar tahun setelah peristiwa Big Bang.

Penemuan nan dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pada 17 Agustus ini memberikan wawasan baru mengenai perkembangan Bima Sakti.

"Beberapa penelitian terdahulu beranggapan bahwa fase-fase paling awal dari perkembangan galaksi kita ditentukan oleh bintang-bintang nan hanya lahir di galaksi kita," tutur Massari. "Di sini, kami telah menunjukkan bahwa bintang-bintang nan lahir di galaksi eksternal juga perlu dipertimbangkan." (space/Z-2)

Selengkapnya