Sebuah ilustrasi menunjukkan lubang hitam runtuhan langsung nan terbentuk di jantung galaksi kuno.(Robert Lea (dibuat dengan Canva))
PELUNCURAN teleskop luar angkasa terbaru milik NASA, Nancy Grace Roman Space Telescope (Roman), dijadwalkan berjalan pada 30 Agustus 2026. Kehadiran teleskop canggih ini diproyeksikan bakal membuka tabir misteri lubang hitam supermasif nan memangsa bintang-bintang di alam semesta purba.
Melalui pengamatan kejadian kekerasan kosmik nan dikenal sebagai Tidal Disruption Event (TDE) alias peristiwa gangguan pasang surut, para intelektual berambisi tidak ada lagi tempat bagi lubang hitam galak untuk bersembunyi. Peristiwa TDE terjadi ketika sebuah bintang melintas terlalu dekat dengan gravitasi ekstrem lubang hitam supermasif. Akibatnya, bintang tersebut hancur, tergepengkan, dan terdistorsi dalam proses nan dinamakan spaghettification, sebelum akhirnya perlahan dilahap oleh lubang hitam.
Pengamatan kejadian TDE pada era cosmic noon, periode sejarah alam semesta sekitar 11 hingga 12 miliar tahun lalu, menjadi kunci krusial bagi para astronom untuk memahami gimana lubang hitam supermasif dapat tumbuh sedemikian masif dalam waktu relatif singkat.
Secara umum, TDE lebih sering terjadi pada lubang hitam dengan massa sekitar 100.000 hingga 100 juta kali massa matahari. Penelitian terdahulu sempat menduga TDE jarang terjadi pada masa awal alam semesta lantaran lubang hitam generasi awal belum mencapai massa minimum tersebut. Namun, studi terbaru nan diterbitkan dalam The Astrophysical Journal pada 14 Juli mengungkap bahwa TDE pada era awal alam semesta justru berpotensi terjadi lebih sering dari perkiraan sebelumnya.
Melalui program High-Latitude Time-Domain Survey, Teleskop Roman bakal memantau wilayah langit seluas 90 kali bulan purnama secara berulang. Para peneliti memperkirakan teleskop ini bisa mendeteksi ribuan hingga puluhan ribu peristiwa TDE setiap tahunnya, dengan ratusan di antaranya berasal dari era cosmic noon.
"Teleskop Luar Angkasa Roman bakal membawa perubahan besar bagi pengetahuan kejadian transien," ujar pemimpin tim penelitian, Mitchell Karmen dari Johns Hopkins University. "Berkat sensitivitas tinggi milik Roman, kita dapat menemukan banyak peristiwa gangguan pasang surut pada jarak nan lebih jauh dan waktu kosmik nan lebih awal dari nan pernah ada sebelumnya."
Data TDE dari Teleskop Roman diharapkan bisa memecahkan teka-teki pertumbuhan lubang hitam nan menjadi perdebatan sejak Teleskop James Webb (JWST) mengumpulkan info pada 2022. Para astronom saat ini mempunyai dua teori utama: teori light seeds (benih ringan dari runtuhnya bintang masif) dan teori heavy seeds (benih berat dari keruntuhan langsung awan gas primordial).
"Peristiwa gangguan pasang surut membantu kita menyelidiki populasi lubang hitam supermasif ringan, nan dapat membantu kita membedakan di antara model-model ini," kata Karmen.
Anggota tim penelitian sekaligus guru besar astronomi di University of Maryland, Suvi Gezari, menambahkan bahwa pengukuran jumlah TDE berasas pergeseran merah (redshift) bakal memberikan batas krusial pada populasi lubang hitam bermassa jutaan kali matahari.
"Sama seperti JWST nan telah mengubah pemahaman kita tentang galaksi jarak jauh ber-redshift tinggi, Roman bersiap mengubah pemahaman kita tentang kejadian transien pada redshift tinggi," tutur Gezari. (Space/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·