Tetap Berprestasi di Tengah Keterbatasan, Cinta tak Gentar Mengejar Cita-Cita

1 jam yang lalu 8
Tetap Berprestasi di Tengah Keterbatasan, Cinta tak Gentar Mengejar Cita-Cita Cinta (kiri).(MI/Marianus Marselus)

DI tengah keterbatasan hidup nan jauh dari kata layak, Marselina Lovelia Kurniati Rindu, alias berkawan disapa Cinta, tetap mempertahankan semangat untuk berguru dan berprestasi. Cinta baru berumur 11 tahun. Kini, dia duduk di Kelas I SMP Negeri 1 Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di usia nan tetap belia, Cinta kudu menjalani kehidupan tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Ia kehilangan ibu ketika tetap berumur sekitar satu tahun. Sang ayah kemudian pergi meninggalkannya tanpa pengasuhan.

Sejak kecil, Cinta diasuh oleh kakek dan neneknya, Sebas Tonggo dan Katarina Labe. Namun, pada 2024, sang kakek meninggal dunia. Sejak saat itu, Cinta hanya tinggal berbareng neneknya, Katarina Labe, nan sekarang telah lanjut usia.

Keduanya tinggal di Kampung Compang, RT 015/RW 007, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.

Rumah nan mereka tempati merupakan peninggalan almarhum kakek Cinta. Bangunan berukuran sekitar 7 x 6 meter itu berdinding bambu dan papan nan sebagian sudah berlubang. Lantainya tetap berupa tanah, sedangkan atapnya menggunakan seng nan telah berkarat. Sebagian gedung juga tetap menggunakan bambu.

Saat hujan turun, air masuk melalui celah-celah genting rumah. Namun, kondisi tersebut tidak membikin Cinta kehilangan semangat untuk belajar.

Tetap Berprestasi Meski Hidup Serba Kekurangan

Keterbatasan ekonomi justru membikin Cinta semakin gigih mengejar pendidikan.

Saat tetap berguru di SDI Compang Ngeles, Cinta dikenal sebagai siswi nan giat dan berprestasi. Ia selalu sukses meraih ranking pertama di sekolah.

Kini, setelah melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Elar, semangat tersebut tetap dia pertahankan.

Setiap hari, Cinta melangkah kaki pergi dan pulang sekolah. Ia menjalani perjalanan dengan busana seadanya, sandal nan sudah tidak layak, serta tas lusuh berisi buku-buku pelajaran. Tidak ada kendaraan nan mengantarnya ke sekolah. Fasilitas belajar nan memadai pun tidak tersedia di rumah.

Namun, kondisi tersebut tidak menjadi argumen bagi Cinta untuk berakhir belajar.

“Cinta anak nan sangat rajin, sopan, dan selalu aktif di sekolah. Meski kurang mampu, dia tak pernah tidakhadir berprestasi,” ujar salah seorang mantan gurunya.

Di kembali semangat Cinta untuk bersekolah, ada perjuangan panjang sang nenek, Katarina Labe. Sebagai satu-satunya orang nan mengasuh Cinta, Katarina kudu bekerja serabutan di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.

Dari pekerjaan tersebut, dia berupaya memenuhi kebutuhan makan, pakaian, buku, seragam, dan biaya sekolah Cinta.

“Sebagai kepala keluarga, saya kudu menanggung segalanya. Makan, kebutuhan sekolah Cinta, buku, dan seragam. Namun, apa daya, penghasilan serabutan tak cukup untuk kami berdua,” ujar Katarina dengan mata berkaca-kaca.

Katarina mengatakan dirinya dan Cinta telah terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Sementara itu, Cinta menerima support Program Indonesia Pintar (PIP).

Namun, support tersebut belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup dan pendidikan Cinta. Kondisi rumah nan mereka tempati juga memerlukan perhatian.

“Rumah kami bocor di mana-mana. Saat hujan, kami kedinginan dan basah. Kami hidup sangat sederhana, apalagi susah dikatakan layak,” katanya.

Anak laki-laki Katarina nan merupakan om kandung Cinta saat ini tetap berada di perantauan. Karena itu, kehidupan sehari-hari Cinta dan neneknya lebih banyak ditopang oleh hasil kerja serabutan serta support dari family dan penduduk sekitar.

Di tengah kondisi tersebut, Cinta tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya mau tetap berguru dan meraih cita-citanya.

Sepulang sekolah, Cinta membantu neneknya mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah itu, dia kembali belajar dan mempersiapkan diri mengikuti pelajaran di sekolah.

Bagi Cinta, keterbatasan pakaian, sandal nan sudah rusak, perjalanan kaki menuju sekolah, hingga kondisi rumah nan bocor bukan argumen untuk menyerah.

“Saya mau tetap bersekolah, kelak mau menjadi orang nan sukses. Saya mau membalas kasih sayang Nenek,” tutur Cinta.

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang mimpi seorang anak nan sejak mini kudu kehilangan kedua orang tuanya.

Cinta mungkin tumbuh dalam rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Namun, dari tempat sederhana itu, dia terus menyalakan mimpi tentang masa depan.

Kini, Cinta dan neneknya berambisi ada kepedulian dari beragam pihak untuk membantu kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari, sekaligus memperbaiki rumah mereka agar lebih layak dan kondusif dihuni.

Sebab, di kembali keterbatasan itu, ada seorang siswi SMP nan tetap mau terus belajar, berprestasi, dan membuktikan bahwa keadaan ekonomi bukan argumen untuk memadamkan cita-cita. (M/P-3)

Selengkapnya