Tingkat Kepercayaan Masyarakat AS Longsor atas Donald Trump

14 jam yang lalu 4
Tingkat Kepercayaan Masyarakat AS Longsor atas Donald Trump Presiden AS Donald Trump.(White House)

JAJAK pendapat Reuters/Ipsos nan berhujung pada Senin (17/8) menyebut bahwa tingkat persetujuan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turun menjadi 33%, level terendah selama masa kepresidenannya, di tengah kekhawatiran publik mengenai perang AS melawan Iran.

Hanya 33% responden dalam survei selama empat hari tersebut nan menyatakan bahwa mereka menyetujui keahlian Trump di Gedung Putih, sementara 64% tidak menyetujuinya, seperti ditunjukkan jajak pendapat itu.

Jajak pendapat tersebut memaparkan bahwa tingkat persetujuan terhadap Trump, nan turun dari 35% dalam jajak pendapat nan dilakukan pada awal bulan ini dan menjadi nan terendah selama masa kedudukan keduanya, sekarang menyamai tingkat terendah pada masa kedudukan pertamanya, nan tercatat pada Desember 2017.

Jajak pendapat terbaru itu dirilis ketika periode negosiasi selama 60 hari berasas nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara AS dan Iran dijadwalkan berhujung pada Senin, tanpa adanya kemajuan menuju perjanjian perdamaian nan lebih luas antara kedua pihak. Trump berupaya meredakan kekhawatiran publik mengenai tingginya nilai bahan bakar dalam pernyataannya baru-baru ini.

Dalam sebuah rapat umum politik di Garden City, New York, pada Jumat (14/8), Trump menuturkan bahwa bayar "sedikit lebih mahal untuk bensin Anda" sepadan dengan biaya untuk memastikan "negara nan sangat jahat" tidak dapat mempunyai senjata nuklir.

Sementara itu, jajak pendapat Financial Times nan dirilis pada Minggu (16/8) menunjukkan bahwa 53% pemilih AS mengatakan kondisi mereka menjadi lebih jelek di bawah kepemimpinan Trump, di tengah meningkatnya ketidakpuasan atas langkah dia menangani perekonomian dan biaya hidup.

"Inflasi melampaui kenaikan bayaran dan masyarakat mengalami kesulitan bayar tagihan mereka. Banyak nan merasa mereka semakin tertinggal dan tidak bisa mengikuti kenaikan biaya makanan, bahan bakar dan jasa kesehatan," kata Senior Fellow di Brookings Institution Darrell West kepada Xinhua. (Ant/P-3)

Selengkapnya