Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.(Getty Image)
PEMERINTAH Tiongkok menyebut hubungan kerja samanya dengan Iran berada dalam kerangka internasional sehingga tidak boleh diganggu, termasuk oleh Amerika Serikat.
"Kerja sama Tiongkok dengan Iran dilakukan dalam kerangka norma internasional, sehingga tidak boleh diganggu. Kami mengikuti perkembangan dengan saksama, dan bakal melakukan segala sesuatu nan diperlukan untuk melindungi kewenangan dan kepentingannya dengan tegas," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian dalam konvensi pers di Beijing, Selasa (25/8).
AS sebelumnya memperingatkan negara-negara lain, termasuk Tiongkok atas akibat hukuman sekunder nan semakin tinggi jika mereka berbisnis dengan Iran, seiring peluncuran kampanye baru AS untuk memutus jalur ekonomi vital Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kampanye "Operation Economic Outcast" itu berfokus pada lima sektor ekonomi Iran, ialah aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.
"Mereka nan berdiri berbareng Amerika Serikat bakal menuai faedah dari kemitraan kami. Mereka nan mengikat diri pada rezim Iran kudu bersiap untuk ikut merasakan isolasi nan dialami rezim terpuruk itu," kata Bessent dalam konvensi pers di Washington D.C., AS, Senin (24/8).
Dia menegaskan tak ada pihak nan kebal terhadap hukuman AS. Bessent pun menekankan entitas alias negara mana pun, termasuk Tiongkok sebagai mitra jual beli utama Iran, dapat menjadi sasaran dalam operasi baru AS itu.
"Tiongkok telah berulang kali menyatakan penentangannya nan tegas terhadap hukuman sepihak terlarangan nan tidak mempunyai dasar dalam norma internasional alias otorisasi Dewan Keamanan PBB," tambah Lin Jian.
Ia menyebut perang ekonomi dan tekanan maksimum tidak memberikan solusi.
"Sebaliknya, hukuman ekonomi hanya bakal memicu ketegangan dan menyebabkan akibat meluas, nan bakal mengganggu tatanan ekonomi dan finansial global, dan merugikan kewenangan dan kepentingan sah negara lain," ungkap Lin Jian.
Tugas mendesak saat ini, menurut Lin Jian, adalah memfasilitasi deeskalasi situasi dan kembali ke perbincangan dan negosiasi sesegera mungkin.
"Tiongkok bakal melakukan segala nan diperlukan untuk melindungi kewenangan dan kepentingannya dengan tegas," tegas Lin Jian.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan setiap negara mempunyai pemisah waktu nan telah ditetapkan untuk menghentikan aktivitas-aktivitas nan telah AS identifikasi.
"Jika mereka tidak mengambil tindakan, maka kami bakal melakukannya secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan AS," kata Bessent.
Bessent juga menambahkan saat ini adalah saatnya bagi para pemimpin bumi untuk mengambil keputusan antara kemakmuran dan isolasi, perdamaian dan teror, serta Amerika dan Iran. Namun, pemerintahan Trump tidak mengungkapkan rincian upaya terbarunya untuk memberikan tekanan ekonomi.
"Kami tidak bakal menyebut nama-nama tertentu," kata Bessent.
Selain mengumumkan kemungkinan hukuman sekunder, Bessent mengatakan bahwa AS telah memutuskan untuk menjatuhkan hukuman terhadap sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di seluruh bumi lantaran memungkinkan rezim Iran memperoleh teknologi nuklir dan rudal ilegal, melakukan operasi siber, serta menghasilkan pendapatan dari minyak.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan peluncuran operasi ekonomi terhadap Iran pada Kamis (20/8) dan menyebutnya sebagai isolasi dalam skala nan belum pernah terjadi sebelumnya.
Ancaman itu muncul di tengah upaya Presiden AS Donald Trump nan tetap berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri bentrok nan telah berjalan nyaris enam bulan dan hanya sebulan sebelum rencana kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Gedung Putih. (Ant/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·