Titik Panas di Sumbar Tembus 232, Pesisir Selatan Terbanyak

5 jam yang lalu 4
Titik Panas di Sumbar Tembus 232, Pesisir Selatan Terbanyak Kabut asap menyelimuti area pemukiman di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar mengingatkan kualitas udara di provinsi itu menurun dengan tingkat kualitas udara sedang lantaran berasas pantauan aplikasi Sipongi ada bel(ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/Spt.)

SEBANYAK 232 titik panas (hotspot) terdeteksi di Sumatra Barat (Sumbar) sepanjang 1–13 Agustus 2026. Titik panas tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Pesisir Selatan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat Tasliatul Fuaddi mengatakan, info tersebut merupakan hasil pemantauan titik panas melalui sistem SIPONGI Kementerian Kehutanan nan menggunakan tiga satelit, ialah NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.

“Dari hasil pemantauan 1 sampai 13 Agustus 2026, tercatat sebanyak 232 titik hotspot di Sumatera Barat,” kata Tasliatul Fuaddi, dilansir Senin (24/8).

Ia menjelaskan, jumlah hotspot mengalami perubahan setiap harinya. Pada 8 Agustus tercatat sebagai hari dengan jumlah titik panas tertinggi, ialah 43 titik, disusul 1 Agustus sebanyak 34 titik, 12 Agustus 31 titik, serta masing-masing 30 titik pada 2 dan 7 Agustus.

Kabupaten Pesisir Selatan menjadi wilayah dengan sebaran hotspot paling menonjol. Pada 1 Agustus terdapat 21 titik, kemudian 20 titik pada 2 Agustus. Pada 8 Agustus terdeteksi lima titik, 10 Agustus delapan titik, 11 Agustus tujuh titik, dan kembali mencapai 18 titik pada 12 Agustus.
Selain Pesisir Selatan, hotspot juga terpantau di Dharmasraya, Pasaman, Pasaman Barat, Sijunjung, Solok, Solok Selatan, Lima Puluh Kota, Agam, Padang Pariaman, Tanah Datar, serta Kota Sawahlunto.

Menurut Tasliatul, pemantauan menggunakan beberapa satelit mempunyai kegunaan krusial dalam mendeteksi keberadaan titik panas dan potensi kebakaran. NASA-MODIS digunakan untuk mendeteksi hotspot, luas kebakaran, dan memantau asap, sedangkan NASA-SNPP dan NASA-NOAA20 menggunakan sensor VIIRS nan mempunyai keahlian penemuan hotspot dengan resolusi lebih baik.

Meski jumlah hotspot cukup tinggi, info kualitas udara nan tersedia di Stasiun AQMS Padang Pariaman pada periode nan sama menunjukkan kondisi tetap dalam kategori sedang. Nilai ISPU berada pada rentang 86–88 dan tidak terdapat pengamatan nan masuk kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, maupun berbahaya.

“Pemantauan kualitas udara tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama lantaran terdapat kecenderungan peningkatan PM2,5 pada akhir periode pengamatan,” ujar Tasliatul.

Data DLH menunjukkan rata-rata PM2,5 meningkat dari 4,79 pada 10 Agustus menjadi 5,52 pada 11 Agustus, 6,83 pada 12 Agustus, dan 6,75 pada 13 Agustus. Namun, peningkatan tersebut belum menyebabkan perubahan kategori ISPU.

Tasliatul menegaskan, keberadaan hotspot perlu terus dipantau lantaran titik panas merupakan parameter awal nan dapat membantu mendeteksi potensi kebakaran. Terlebih, provinsi tetangga juga mencatat jumlah hotspot nan jauh lebih tinggi dalam periode nan sama, antara lain Riau 927 titik, Jambi 794 titik, Sumatera Utara 289 titik, Bengkulu 129 titik, dan Sumatera Selatan 2.838 titik.

“Pemantauan hotspot dan kualitas udara menjadi bagian krusial dalam mengantisipasi potensi kebakaran dan dampaknya terhadap lingkungan maupun masyarakat,” kata Tasliatul. (H-4)

Selengkapnya