Tokoh Yahudi Harvard Tiba-Tiba Singgung Wali Kota Muslim New York

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Profesor norma terkemuka dari Universitas Harvard, nan juga seorang pengacara senior, Alan Dershowitz, melayangkan kritik sangat pedas terhadap penduduk Yahudi nan memilih Walikota New York City (NYC), Zohran Mamdani. Dalam sebuah aktivitas bincang-bincang, tokoh Yahudi itu secara blak-blakan menyebut para pemilih tersebut sebagai orang-orang "idiot".

Langkah politik para pemilih tersebut dinilai sangat keliru lantaran merangkul kandidat nan kebijakannya dinilai bertolak belakang dengan identitas mereka sendiri. Kecaman keras ini langsung memicu perdebatan hangat di tengah konstelasi politik lokal Amerika Serikat (AS), khususnya di wilayah New York.

Mengutip laporan Jerusalem Post, Senin (13/7/2026), kritik tajam tersebut dilontarkan langsung oleh Dershowitz saat tampil dalam program bincang-bincang politik pekan lalu. Acara tersebut dipandu secara langsung oleh mantan walikota legendaris New York City, Rudy Giuliani.

Dershowitz menilai ada sebuah anomali besar dan absurditas politik nan sedang terjadi di dalam internal masyarakat kota New York saat ini. Ia merasa heran memandang sebuah kota nan dulunya memilih sosok tegas seperti Giuliani, sekarang justru memenangkan kandidat seperti Zohran Mamdani.

"Itu kota Anda! Itu kota Anda, Walikota. Kota nan sama memilih Rudy Giuliani dan Mamdani untuk kedudukan nan sama. Ini tidak masuk akal. Maksud saya, Mamdani semestinya menjadi walikota Teheran," ketus Dershowitz kepada Giuliani.

Lebih lanjut, Dershowitz secara radikal membandingkan kejadian politik di New York saat ini dengan potret kelam sejarah dunia. Ia menyamakan para pemilih Mamdani dengan golongan Yahudi nan sempat memberikan support politik kepada Adolf Hitler di Jerman.

Dershowitz berpandangan bahwa golongan pemilih Yahudi di area elite New York saat ini sama sekali tidak belajar dari kesalahan sejarah masa lalu. Menurutnya, mereka kembali terjebak dalam pola pikir nan dapat merugikan masa depan organisasi mereka sendiri.

"Orang-orang saya, para Yahudi idiot di New York, nan tinggal di Upper West Side, nan tinggal di Park Slope, nan memilih Mamdani-mengingatkan saya pada 7.000 orang Yahudi nan memilih Hitler," lanjut Dershowitz menambahkan kecamannya.

Ia kemudian mengulas kembali kebenaran sejarah kelam pada tahun 1932 sebelum pecahnya Perang Dunia II di daratan Eropa. Kala itu, ada sekitar 7.000 penduduk Yahudi nan nekat membentuk partai dan memberikan bunyi mereka untuk mendukung pergerakan Hitler.

Kelompok tersebut kala itu mempunyai dugaan nan sangat keliru bahwa sang diktator bakal membawa akibat baik bagi pertumbuhan perekonomian Jerman. Dershowitz dan Giuliani sepakat bahwa pada masa itu tidak ada satu perihal pun nan sukses menyadarkan golongan tersebut dari ancaman Nazi.

Dershowitz juga melontarkan sindiran serupa terhadap support politik nan mengalir deras untuk sosok politisi berjulukan Brad Lander. Lander merupakan politisi Yahudi-Amerika anti-Israel nan baru saja memenangkan pemilu primer di distrik kongres ke-10 New York.

Kemenangan Lander dalam pemilu primer bulan lampau sukses menumbangkan petahana, Perwakilan Dan Goldman, berkah sokongan penuh dari Mamdani. Hal inilah nan dinilai Dershowitz sebagai corak pengulangan kesalahan sejarah nan dilakukan secara sadar oleh komunitasnya.

Di sisi lain, jalannya obrolan intensif antara Dershowitz dan Giuliani tersebut juga melebar ke beragam rumor krusial di tingkat nasional. Mereka memperdebatkan masalah pemisah biaya kampanye hingga status atlet transgender dalam bumi olahraga profesional.

Pembahasan ini mencuat tak lama setelah Mahkamah Agung AS resmi membatalkan perintah pelaksana Presiden Donald Trump mengenai kewarganegaraan. Perintah pelaksana Trump tersebut awalnya berupaya keras untuk menghapuskan kewenangan kebangsaan otomatis berasas tempat lahir (birthright citizenship).

Melalui keputusan terbaru tersebut, Mahkamah Agung AS memilih untuk menegaskan kembali salah satu prinsip konstitusi negara nan paling mendasar. Pihak peradilan tertinggi menyatakan bahwa nyaris setiap orang nan lahir di atas tanah AS secara otomatis adalah penduduk negara AS.

Terlepas dari perdebatan tersebut, latar belakang rekam jejak dari kedua tokoh ini juga tak luput dari sorotan publik dalam beberapa tahun terakhir. Giuliani, nan merupakan politisi Partai Republik, sekarang telah dijatuhi hukuman pemecatan permanen dari pekerjaan hukumnya.

Sanksi berat tersebut dijatuhkan atas peran aktif Giuliani dalam upaya membatalkan hasil pemilu tahun 2020 demi memihak kepentingan Trump. Sementara itu, reputasi Dershowitz sendiri juga menghadapi tekanan berat akibat keterkaitannya di masa lampau dengan terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya