Tolak Rencana Damai Donald Trump, Israel Terus Serang Gaza

1 jam yang lalu 2
Tolak Rencana Damai Donald Trump, Israel Terus Serang Gaza Serangan Israel ke Gaza.(Al Jazeera)

PEMERINTAH Israel secara resmi menyampaikan keberatan kepada Amerika Serikat mengenai rencana pengakhiran perang Jalur Gaza nan diusung Presiden Donald Trump. Meski Trump memuji rencana tersebut sebagai langkah besar, Israel tetap melanjutkan serangan militer di wilayah Palestina tersebut.

Ketegangan itu menandakan ada keretakan terbaru antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu, nan tengah menghadapi pemilihan ulang nan susah pada Oktober mendatang, selama ini sangat menonjolkan kedekatannya dengan pemimpin AS tersebut.

Ketidaksesuaian Posisi Israel

Kantor Perdana Menteri Israel menuntut pelucutan senjata Hamas nan lebih konkret. Meskipun Hamas pada Jumat menyatakan kesediaan untuk menyerahkan senjata kepada komite pemerintahan Palestina nan baru di bawah rencana Trump, Israel tetap skeptis.

"Israel menyampaikan komentar dan kekhawatirannya mengenai kerangka kerja nan diusulkan kepada rekan-rekan Amerika kami. Versi nan dipublikasikan tidak mencerminkan posisi Israel," ujar Doron Spielman, ahli bicara instansi perdana menteri, kepada AFP.

Spielman menambahkan bahwa intelijen Israel menemukan bukti bahwa Hamas mempersenjatai diri kembali dan merekrut pasukan sejak gencatan senjata nan diumumkan Trump pada Oktober lalu. Meskipun kekerasan berkurang, Israel tetap menguasai lebih dari 60 persen Jalur Gaza. Otoritas Gaza melaporkan lebih dari 1.200 penduduk Palestina tewas sejak gencatan senjata tersebut, sementara militer Israel kehilangan lima tentara dan satu kontraktor sipil.

Tuntutan Demiliterisasi Penuh

Donald Trump menyebut langkah pelucutan senjata Hamas sebagai tonggak sejarah utama untuk mengakhiri perang nan dipicu oleh serangan 7 Oktober 2023. Trump mengeklaim Israel sangat senang dengan perkembangan ini. Namun Netanyahu belum memberikan pernyataan publik secara langsung.

Juru bicara Netanyahu menegaskan bahwa tindakan Hamas menunjukkan persiapan untuk, "Pembantaian style 7 Oktober lain." Israel menekankan bahwa visi Board of Peace Trump nan menginginkan Gaza menjadi area bebas teror nan terderadikalisasi sangat kontras dengan realitas saat ini.

"Langkah pertama nan sangat diperlukan menuju pengaturan permanen adalah demiliterisasi Hamas nan asli, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah," tegas ahli bicara tersebut. "Apa pun nan kurang dari demiliterisasi penuh bakal membiarkan Hamas mempunyai keahlian untuk menakut-nakuti Israel lagi."

Serangan Terus Berlanjut

Di tengah perdebatan diplomatik, situasi di lapangan tetap memanas. Pejabat keamanan di Gaza melaporkan bahwa serangan Israel sejak Minggu (2/8) pagi menewaskan 19 penduduk Palestina, termasuk wanita dan anak-anak. Serangan pada Sabtu (1/8) juga dilaporkan menghancurkan pasokan medis dalam jumlah besar.

Militer Israel berkilah serangan tersebut menargetkan depot senjata dan pejuang Hamas nan berlindung di prasarana sipil. Mereka juga mengidentifikasi dua orang nan tewas pada Sabtu sebagai pihak nan merencanakan serangan terhadap penduduk sipil dan pasukan Israel.

Divergensi Diplomatik

Ketegangan itu juga melibatkan tokoh politik Palestina, Mohammad Dahlan, nan mengeklaim telah berkomunikasi dengan menantu Trump, Jared Kushner. Dahlan awalnya menyebut serangan bakal berakhir pada hari Minggu. 

Namun kemudian merevisi pernyataannya bahwa Kushner sedang berupaya menghentikan serangan tersebut. Dahlan menuduh Netanyahu menghalangi kesempatan paling menjanjikan untuk mengakhiri perang.

Selain masalah Gaza, Israel juga skeptis terhadap upaya diplomasi Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran nan dimulai sejak akhir Februari. Namun, Presiden Israel Isaac Herzog memberikan pandangan nan lebih optimistis, menyebut upaya Trump membawa visi angan dengan catatan tegas bahwa Hamas kudu dilucuti senjatanya. (I-2)

Selengkapnya