Trump Buat Gebrakan Baru, Siapkan "Perang Ekonomi" Terbesar di Dunia

15 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Kali ini, Trump menakut-nakuti bakal melancarkan apa nan disebutnya sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan nan pernah dilakukan terhadap negara manapun", sekaligus memperingatkan negara-negara nan membantu Tehran menghindari hukuman AS.

Dalam unggahan di Truth Social, sebagaimana dikutip Kamis (20/8/2026), Trump menyebut langkah tersebut sebagai "perang ekonomi dan isolasi dalam skala nan belum pernah terjadi sebelumnya."

Trump juga menegaskan bahwa Iran telah diberi kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington, tetapi menurutnya Tehran kandas memanfaatkannya.

"Tidak ada seorang pun nan telah memberi Republik Islam Iran kesempatan nan lebih besar untuk membikin kesepakatan selain saya," kata Trump. "Sayangnya, bagi mereka, mereka kandas mengambilnya."

Trump mengeklaim keahlian militer Iran telah mengalami kerusakan besar. Ia mengatakan angkatan laut, angkatan udara, serta akomodasi produksi militer Iran telah dihancurkan dan mata duit negara tersebut telah menjadi tidak bernilai.

Menurut Trump, rezim Iran sekarang "bergantung pada seutas benang."

Namun, ancaman Trump tidak hanya ditujukan kepada Iran. Ia juga memperingatkan negara lain nan tetap memberikan support ekonomi kepada Tehran.

Trump mengatakan negara mana pun nan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, alias entitas pemerintahnya memberikan "jalur kehidupan" kepada Iran bakal menghadapi akibat ekonomi nan sangat besar.

Trump secara unik menyebut sejumlah saluran nan menurutnya kudu segera ditutup untuk mempersempit ruang mobilitas ekonomi Iran.

Saluran tersebut mencakup penyelundupan minyak, jalur pertukaran mata duit , transfer duit tunai, rumah penukaran kurs asing, registrasi kapal, hingga perusahaan-perusahaan kedok alias front companies.

Ia juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak bakal pernah diizinkan memperoleh senjata nuklir.

Ancaman terbaru tersebut memperluas kampanye tekanan ekonomi nan telah dijalankan pemerintahan Trump sejak April melalui Operation Economic Fury. Operasi tersebut ditujukan untuk memutus apa nan disebut Washington sebagai sumber pendanaan teror dunia dan aliran pendapatan rezim Iran.

Namun, dari sisi Iran, kebijakan tersebut justru dipandang sebagai penghalang bagi penyelesaian bentrok melalui perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menuduh Washington meningkatkan tekanan hukuman setelah beberapa putaran hukuman sebelumnya kandas memaksa Tehran menyerah. Menurut Araghchi, pendekatan tersebut justru menjadi halangan bagi upaya mencari jalan keluar melalui negosiasi.

Meski demikian, pertanyaan terbesar mengenai efektivitas tekanan ekonomi AS terhadap Iran justru berada di China.

Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, mengatakan China mempunyai hubungan keuangan, logistik, dan perdagangan nan jauh lebih dalam dengan Iran dibandingkan negara lainnya.

Menurut McNally, Beijing menjadi salah satu aspek paling menentukan apakah kampanye tekanan ekonomi Washington betul-betul bisa mengisolasi Tehran.

China sendiri sebelumnya telah menunjukkan kesediaannya untuk melakukan tindakan balasan.

Karena itu, keahlian AS untuk menekan jaringan ekonomi Iran pada akhirnya bakal sangat berjuntai pada sejauh mana China bersedia mengikuti tekanan Washington.

Dampak langsung ancaman hukuman baru Trump terhadap pasar minyak juga diperkirakan tetap terbatas.

McNally mengatakan pasar minyak kemungkinan besar tidak bakal banyak bergerak hanya lantaran ancaman hukuman tersebut, selain para pemimpin garis keras Iran merespons dengan meningkatkan eskalasi militer.

Namun, menurutnya, pasar mulai kehilangan optimisme mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat dan secara berkelanjutan.

"Pasar minyak menjadi sedikit kurang optimistis mengenai pembukaan kembali Hormuz nan berkepanjangan dalam waktu dekat," ujar McNally program CNBC.

Adpaun persoalan Selat Hormuz menjadi aspek krusial dalam perkembangan terbaru tersebut.

Lalu lintas kapal melalui jalur strategis itu tetap jauh di bawah kondisi normal sebelum perang. Penargetan kapal oleh Iran dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran membikin sebagian besar operator kapal memilih menjauh dari jalur tersebut.

Data dari Lloyd's List Intelligence menunjukkan hanya ada 73 transit kapal melalui Selat Hormuz pada pekan nan berhujung 16 Agustus. Jumlah tersebut turun dari 91 transit pada pekan sebelumnya.

Lloyd's List Intelligence menyebut hanya sekelompok mini operator nan tetap aktif melintasi jalur tersebut.

Rendahnya aktivitas pelayaran menunjukkan bahwa gangguan terhadap salah satu jalur perdagangan daya terpenting bumi tetap berlangsung. Kondisi tersebut juga membikin pasar minyak tetap sensitif terhadap perkembangan bentrok Iran-AS, terutama jika ancaman ekonomi terbaru Trump diikuti respons militer dari Tehran.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya