ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Saluran komunikasi diplomatik rahasia dilaporkan sempat diaktifkan oleh jejeran petinggi keamanan Amerika Serikat (AS) guna meneruskan "pesan peringatan tertutup" bagi Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, serta Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Intervensi darurat ini terpaksa ditempuh Washington menyusul adanya penemuan intelijen mengenai rencana operasi pembunuhan terhadap kedua negosiator inti tersebut oleh pihak militer Israel demi memutus jalan rekonsiliasi.
Melansir pemberitaan New York Times nan dirilis ulang oleh Times of Israel pada Minggu (5/7/2026), ancaman likuidasi bentuk terhadap komponen elite Teheran ini mulai berembus kencang hanya selang beberapa pekan semenjak kesepakatan tenteram sementara diteken pada 8 April, sebuah pakta krusial nan sejauh ini sukses menekan laju eskalasi konfrontasi bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran.
"Washington cemas jika Israel betul-betul menghabisi Araghchi dan Ghalibaf, seluruh proses meja perundingan nan sedang melangkah bakal hancur acak-acakan dan memicu pertempuran bersenjata baru nan jauh lebih masif," ujar seorang sumber.
Ghalibaf sendiri dilaporkan baru saja lolos dari maut setelah pesawat nan ditumpanginya terpaksa melakukan pendaratan darurat di Mashhad, wilayah timur laut Iran. Insiden ini terjadi saat dia dalam perjalanan pulang dari Islamabad, Pakistan, usai menggelar perbincangan intensif dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April.
Pasukan keamanan Iran dilaporkan mendeteksi ada dua jet tempur Israel nan nekat menerobos wilayah udara mereka melalui rute Irak. Keduanya diindikasikan hendak menyergap pesawat sang ketua parlemen.
Akibat situasi darurat tersebut, Ghalibaf dan seluruh delegasi Iran terpaksa dievakuasi. Ia kudu menempuh jalur darat selama delapan jam demi bisa kembali ke ibu kota Teheran.
Mengingat risikonya nan sangat fatal bagi stabilitas global, otoritas AS sampai kudu meminta support dari para pejabat di beberapa negara sekutu area Timur Tengah untuk meneruskan pesan peringatan rahasia ini langsung ke Teheran.
Langkah preventif ini diambil lantaran sejak awal perang pecah pada 28 Februari, militer Israel terus secara sistematis menargetkan dan membunuh jejeran kepemimpinan senior Iran, termasuk kepala keamanan nasional Ali Larijani dan mantan menteri luar negeri Kamal Kharazi, nan sebenarnya merupakan figur potensial untuk bermusyawarah dengan AS.
Sebelumnya pada bulan Maret, saat pertempuran tetap berjalan sengit, pemerintah Pakistan telah melakukan intervensi diplomatik dengan mendesak Washington agar menekan Israel untuk menghapus nama Araghchi dan Ghalibaf dari daftar sasaran pembunuhan mereka.
Mengingat tingginya akibat keamanan, delegasi Iran apalagi sempat meminta agunan internasional serta pengawalan ketat dari jet-jet tempur angkatan udara Pakistan saat mendarat di Islamabad untuk memastikan keselamatan mereka dari buruan intelijen Israel.
"AS meminta Israel untuk mundur," ungkap seorang pejabat Pakistan kepada Reuters, seraya menjelaskan bahwa Islamabad telah memperingatkan pihak Washington jika kedua tokoh tersebut sampai tewas, maka tidak bakal ada lagi orang nan tersisa di Teheran untuk diajak bicara mengenai negosiasi gencatan senjata.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·