Jakarta, CNBC Indonesia - Kanada sekarang tengah bersiap menghadapi babak baru pengenaan tarif impor sebesar 50% dari Amerika Serikat (AS) pada pekan ini. Para pelaku upaya memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat memicu pemutusan hubungan kerja massal di beragam industri nan sudah tertatih-tatih, sekaligus merusak negosiasi kesepakatan perdagangan bebas Amerika Utara.
Mengutip Reuters, Selasa (18/08/2026), Presiden AS Donald Trump pada bulan lampau kembali menggunakan Pasal 338 dari Undang-Undang Tarif 1930 era Depresi untuk memberlakukan bea masuk baru nan dimulai pada hari Rabu. Tarif ini bakal menyasar beragam produk impor asal Kanada, termasuk anggur, furnitur, produk susu, semen, pakaian, perangkat pancing, hingga peralatan hoki.
Ketentuan norma tersebut pada dasarnya mengizinkan presiden AS untuk menjatuhkan tarif balasan hingga 50% terhadap mitra jual beli nan dianggap mendiskriminasi barang-barang AS. Penggunaan kekuasaan nan belum pernah terjadi sebelumnya ini merupakan bagian dari pendekatan garis keras Donald sejak kembali menjabat, mengingat Kanada merupakan mitra jual beli terbesar kedua AS setelah Meksiko.
Tarif baru ini diperkirakan bakal mencakup nyaris US$ 20 miliar (Rp 356 triliun) peralatan asal Kanada. Angka tersebut setara dengan sekitar 5,2% dari total US$ 383 miliar (Rp 6.817,4 triliun) nilai peralatan nan diimpor Amerika Serikat dari negara tetangganya tersebut sepanjang tahun 2025 lalu.
Merespons krisis nan membayangi ini, Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada hari Senin menolak untuk membahas secara rinci mengenai negosiasi nan dia sebut sangat intens dan rumit dengan pihak AS. Namun, Mark memastikan bahwa dia berambisi dapat segera berbincang langsung dengan Donald sebelum tenggat waktu pemberlakuan tarif tersebut tiba.
Menteri Hubungan Perdagangan AS untuk Kanada, Dominic LeBlanc, dan kepala negosiator perdagangan, Janice Charette, diketahui telah mengintensifkan perundingan. Dominic tercatat telah berjumpa dengan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, sebanyak enam kali dalam empat minggu terakhir, termasuk pertemuan virtual pada hari Minggu dan Senin lalu.
Meski pertemuan rutin terus digelar, Dominic melaporkan kepada komite penasihat bahwa Kanada dan AS tetap sangat jauh dari pencapaian draf kesepakatan dagang. Berdasarkan keterangan dua sumber industri otomotif, wacana pengenaan tarif pada kendaraan buatan Kanada sekarang telah muncul sebagai titik kebuntuan paling utama dalam pembicaraan tersebut.
Berbeda dengan sebagian besar tarif Donald sebelumnya, bea masuk baru ini bakal tetap bertindak apalagi untuk produk nan memenuhi syarat perlakuan spesial di bawah Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA). Bulan lalu, sang presiden AS juga dengan tegas menolak untuk memperpanjang perjanjian USMCA selama 16 tahun dan menjadikannya sebagai subjek tinjauan tahunan, sebuah proses nan berpotensi terus menguras suasana investasi di Kanada.
Sektor-sektor industri perseorangan diprediksi bakal menanggung beban terberat dari penerapan tarif ini, nan bakal bermuara pada penurunan pertumbuhan ekonomi. Sektor produk kayu dan industri anggur Kanada nan saat ini sedang berjuang keras akibat dampak kebakaran rimba di wilayah barat negara itu dipastikan bakal makin hancur.
Pemilik Cabico Ltd, sebuah merek lemari dapur pesanan di Kanada, Alain Ouzilleau, menyatakan bahwa akibat pemberlakuan tarif ini bagi industri domestik bisa sangat parah.
"Tarif 50% jelas bukan sesuatu nan dapat diserap oleh produsen, kami juga tidak dapat secara wajar mengharapkan pengguna AS kami untuk menyerapnya. Ini dapat membikin produk buatan Kanada tertentu secara ekonomi tidak kompetitif di pasar AS nyaris dalam semalam," tuturnya.
Usaha mini dan menengah (UKM) Kanada diyakini bakal menjadi pihak nan paling rentan hancur lantaran kebanyakan dari mereka sangat berjuntai pada akses bebas tarif ke AS. Presiden Federasi Bisnis Independen Kanada, Dan Kelly, sangat mengkhawatirkan akibat destruktif dari izin ini.
"Jika tarif mulai berlaku, mereka bakal menyebabkan dislokasi besar-besaran bagi upaya mini nan mengandalkan pengguna AS dan pembeli Amerika nan mengandalkan pemasok Kanada," tegasnya.
Profesor Ekonomi Universitas Toronto, Joseph Steinberg, memaparkan bahwa dengan adanya tarif tersebut pun, Kanada sebenarnya tetap bakal tetap menjadi salah satu negara dengan tingkat tarif ekspor terendah ke AS. Joseph menilai bahwa kekhawatiran nan jauh lebih besar adalah apakah eskalasi perselisihan jual beli ini bakal menghentikan pembicaraan perjanjian USMCA secara total.
"Dalam makna ekonomi makro, tarif ini sebenarnya bukan masalah nan terlalu besar," paparnya.
Dalam proses negosiasi berdarah ini, Jamieson diketahui terus menekan Kanada atas sistem produk susunya dan penarikan alkohol AS dari toko-toko di beberapa provinsi. Perdana Menteri provinsi Ontario, Doug Ford, nan merupakan salah satu penentang paling vokal terhadap kebijakan AS, sebelumnya berjanji bakal membawa alkohol Paman Sam kembali ke rak toko jika negaranya mendapat kesepakatan nan adil, meskipun ancaman tarif baru ini justru dapat membatalkan niat tersebut.
CEO Asosiasi Departemen Pertanian Negara Bagian AS, Ted McKinney, menyebut izin produk susu sebagai masalah pertanian nan paling memicu perdebatan sengit kedua belah pihak.
"Ini lebih dari sekadar titik perdebatan, ini mungkin adalah masalah utamanya," ungkapnya.
Sebagai catatan kelam dalam sejarah, Undang-Undang Tarif 1930 beserta Pasal 338 di dalamnya sangat dikenal luas lantaran telah memicu kenaikan tarif besar-besaran AS pada masa lalu. Pembalasan tarif dari negara-negara lain pada akhirnya secara fatal memperburuk krisis ekonomi dunia nan dikenal sebagai Depresi Hebat pada dasawarsa 1930-an.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·