Ilustrasi.(Magnific)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan perubahan sikap nan drastis mengenai tuduhan peretasan info pemilih oleh Tiongkok. Hanya berselang lima hari setelah menyebut Beijing bertanggung jawab atas kompromi info pemilu terbesar dalam sejarah, Trump sekarang justru meremehkan tindakan tersebut dan mengakui bahwa Amerika Serikat melakukan perihal nan sama.
Dalam pernyataannya pada Selasa (21/7), Trump secara samar menyebut bahwa AS bakal membahas masalah ini dengan pejabat Tiongkok. Namun, dia tidak memberikan indikasi ada hukuman alias sanksi serta mengeklaim bahwa pelanggaran tersebut sudah menjadi masa lalu.
"Itu terjadi sudah lama sekali. Saya pikir Tiongkok mungkin sedikit berbeda hari ini dibandingkan saat itu," ujar Trump.
Pernyataan ini sangat kontras dengan pidato utamanya minggu lalu. Ia menuduh Tiongkok secara terlarangan memperoleh 220 juta file pemilih AS sejak tahun 2020 dan menyebut kehilangan info tersebut sebagai mimpi jelek keamanan pemilu nan belum pernah terjadi.
Pengakuan Aksi Timbal Balik
Trump kemudian menyatakan bahwa dugaan pelanggaran oleh Tiongkok tidak berbeda dengan tindakan nan dilakukan AS terhadap negara tersebut. Ia menekankan ada aksi saling balas dalam bumi intelijen dan siber.
"Mereka melakukan sesuatu dan kita juga melakukan sesuatu kepada mereka," katanya. "Sejujurnya, kita juga melakukan perihal nan sama kepada mereka. Ini bukan jalan satu arah."
Fokus pada Kunjungan Xi Jinping
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan pada Rabu (22/7) bahwa dirinya tidak membahas topik kombinasi tangan pemilu dengan mitranya dari Tiongkok saat menghadiri konvensi ASEAN di Filipina. Rubio lebih memilih konsentrasi pada persiapan kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Washington pada September mendatang.
"Kami banyak berbincang tentang kunjungan bulan September. Intinya membangun landasan bagi kunjungan positif lain. Saya pikir Presiden Xi bakal menjalani kunjungan nan sangat positif," kata Rubio.
Rubio menambahkan bahwa meskipun kedua negara mempunyai perbedaan besar, sebagai dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, hubungan kerja sama tetap kudu dijaga. Ia juga menjelaskan bahwa pidato Trump minggu lampau mengenai kombinasi tangan Tiongkok sebenarnya adalah corak deklasifikasi arsip dari organisasi intelijen AS.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi mengenai apakah Trump sedang mempertimbangkan akibat lanjutan bagi Tiongkok, termasuk kemungkinan penerapan sanksi. Di sisi lain, persiapan untuk kunjungan kenegaraan Xi Jinping dilaporkan terus melangkah sesuai rencana. (CNN/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·