Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk kembali berjumpa dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pada akhir tahun ini. Namun, tawaran diplomatik tersebut langsung mendapat respons nan sangat dingin dari pihak Pyongyang nan mengisyaratkan persyaratan super ketat, meskipun kedua pemimpin itu disebut-sebut mempunyai hubungan pribadi nan luar biasa.
Mengutip Reuters, Jumat (21/08/2026), langkah berani Trump ini diawali dengan keputusannya pada awal pekan nan secara mendadak memangkas skala latihan militer campuran AS dengan Korea Selatan lantaran dinilai berbeda terhadap Korea Utara. Sumber terdekat membeberkan bahwa sang presiden sangat berambisi untuk memulai kembali pembicaraan demi mengamankan kemenangan politik di panggung internasional, di tengah tidak adanya prospek pasti mengenai akhir dari perang enam bulan nan menguras daya di Iran.
Pendekatan taktis ini tetap dipaksakan oleh Washington meskipun Pyongyang saat ini diketahui tengah aktif mengirim ribuan pasukan dan peralatan tempur, termasuk rudal, untuk mendukung Rusia dalam perangnya di Ukraina. Sumber tersebut juga mencatat bahwa pemerintah Korea Selatan secara pribadi sebenarnya reseptif terhadap strategi Trump ini, meskipun para pejabat di Seoul tetap meragukan faedah keamanan dari pengurangan latihan militer gabungan.
Lebih lanjut, Trump dilaporkan berpotensi melakukan perjalanan ke KTT APEC di Shenzhen, China, pada akhir tahun ini. Agenda tersebut diyakini bisa menciptakan kesempatan pertemuan regional nan nyata jika Korea Utara bersedia menerima keterlibatan baru. Terkait posisi resmi AS, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS memastikan bahwa Washington tetap membuka pintunya lebar-lebar.
"Amerika Serikat tetap terbuka terhadap perbincangan dengan Korea Utara tanpa prasyarat. Presiden dan Kim Jong Un bakal berjumpa lagi pada waktu nan tepat," tuturnya.
"Tetap berkomitmen pada denuklirisasi penuh Korea Utara," paparnya merespons rumor senjata pemusnah massal.
Merespons manuver AS, adik wanita Jong Un nan sangat berpengaruh, Kim Yo Jong, langsung menepis narasi niat baik dari pemangkasan skala latihan militer Ulchi Freedom Shield tersebut. Ia menilai bahwa kelanjutan latihan itu tetap garang dan kebijakan AS tetap sangat memusuhi negaranya. Ia juga membantah dengan tegas adanya kontak terbaru antara kakaknya dan Trump .
Sebagai corak protes keras nan diduga ditujukan pada latihan campuran tersebut, pihak militer Korea Selatan mencatat bahwa Korea Utara baru saja menembakkan sekitar 10 rudal balistik di lepas pantai timurnya pada hari Kamis.
"Jika pihak AS mencoba mempromosikan langkah-langkah nan telah mereka ambil kali ini sebagai semacam 'sikap niat baik', mereka tidak bakal mendapatkan jawaban nan mereka inginkan," tegas Yo Jong.
Profesor di Institut Studi Timur Jauh Universitas Kyungnam, Lim Eul-chul, menilai bahwa respons awal Korea Utara secara jelas memisahkan antara hubungan pribadi nan luar biasa antara Donald dan Jong Un, dengan urusan pertahanan militer antarnegara.
"Hubungan pribadi tidak bakal pernah dibiarkan mengorbankan kepentingan keamanan nasional alias upaya untuk memperkuat keahlian militer," papar Eul-chul.
"Dengan kata lain, Pyongyang memberi isyarat bahwa diplomasi individual mempunyai batas dan tidak bakal mengesampingkan prioritas strategis," jelasnya.
Sementara itu, Peneliti Senior di Stimson Center, Jenny Town, membeberkan bahwa prasyarat nan ditetapkan Pyongyang merupakan standar nan teramat tinggi bagi AS. Syarat tersebut mencakup perubahan besar pada kebijakan AS untuk menghapus seluruh komponen permusuhan, hingga pengakuan absolut atas status nuklir Korea Utara alias minimal deklarasi resmi bahwa denuklirisasi bukan lagi tujuan utama Washington.
"Sejauh mana Trump bersedia memenuhi kondisi tersebut untuk mengamankan pertemuan dalam jangka waktu nan sekarang telah ditetapkannya adalah pertanyaan terbuka," ungkap Jenny.
Sejarah mencatat bahwa Trump sebelumnya telah mengadakan serangkaian pertemuan puncak nan berhistoris dengan Jong Un pada 2018 dan 2019. Namun, upaya diplomasi itu kandas acak-acakan akibat tuntutan sepihak AS agar Pyongyang menyerahkan senjata nuklirnya. Sejak saat itu, Trump berulang kali menyebut Korea Utara sebagai kekuatan nuklir di publik, meskipun pemerintahannya secara umum tidak pernah mau mengakuinya sebagai negara bersenjata nuklir.
Kini, posisi tawar Kim Jong Un jauh lebih kuat. Jenny menyoroti bahwa Kim Jong Un saat ini mempunyai lebih sedikit insentif untuk menyetujui pertemuan demi pelonggaran hukuman dibandingkan pada masa kedudukan pertama Trump. Hal ini dikarenakan meroketnya hubungan jual beli Korea Utara dengan China dan Rusia nan sukses menggerakkan napas ekonominya.
"Korea Utara mempunyai opsi dan sedang membina hubungan dengan negara-negara nan tidak memerlukan pengorbanan tetapi hanya usulan nan saling menguntungkan," tuturnya.
"Hanya ada sedikit insentif baginya untuk bergegas kembali ke negosiasi di mana ada ekspektasi baginya untuk menyerahkan apa pun, apalagi sesuatu nan dia anggap krusial bagi pertahanan negara," tambahnya.
Meski terkesan sangat keras, Peneliti Senior di Institut Unifikasi Nasional Korea, Hong Min, memandang bahwa pernyataan Yo Jong sebenarnya dirancang unik untuk tetap membuka kesempatan diplomasi. Ia mencatat bahwa Pyongyang sengaja menghilangkan penyebutan perang Iran di Timur Tengah agar tidak mengiritasi Donald.
"Tujuan intinya tampaknya adalah mendorong postur AS nan lebih akomodatif," kata Min.
"Pernyataan Yo Jong tampaknya bukan sebuah penolakan perbincangan melainkan upaya untuk mengelola persepsi Donald, membentuk pemahamannya tentang Korea Utara dan meletakkan dasar bagi kemungkinan pembicaraan AS-Korea Utara di masa depan," paparnya.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·