Trump Restui Serangan Militer Arab Saudi terhadap Houthi di Yaman

3 jam yang lalu 4
ARTICLE AD BOX
Trump Restui Serangan Militer Arab Saudi terhadap Houthi di Yaman Donald Trump dan MBS.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan memberikan support penuh kepada Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), untuk melakukan tindakan militer nan tidak biasa terhadap golongan Houthi nan didukung Iran di Yaman. Menurut keterangan dua pejabat AS, langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam dinamika keamanan di area tersebut.

Serangan udara Arab Saudi ke Bandara Sanaa pada Senin (13/7), nan segera diikuti oleh serangan rudal jawaban dari pihak Houthi, menjadi eskalasi lintas pemisah paling serius sejak gencatan senjata tidak resmi dimulai pada 2022. Situasi ini dikhawatirkan bakal meruntuhkan gencatan senjata nan telah memperkuat selama empat tahun terakhir.

Konflik militer nan kembali berkobar antara Arab Saudi dan Houthi berpotensi memperburuk ketegangan regional dan memperluas cakupan perang antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah MBS nan memberi tahu Trump lebih awal dan meminta dukungannya menunjukkan kekhawatiran mendalam Riyadh bakal bentrok skala besar nan memerlukan support militer serta diplomatik dari Washington.

Diplomasi di Balik Layar

Sebelum serangan terjadi, serangkaian komunikasi intensif dilakukan antara Riyadh dan Washington:

  • Pekan Lalu: Arab Saudi menyampaikan kekhawatiran atas situasi di Yaman kepada AS dan meminta support untuk kemungkinan serangan udara.
  • Kamis: Duta Besar Arab Saudi untuk Washington berjumpa dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
  • Jumat: Marco Rubio berbincang dengan Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan.
  • Jumat Malam: Presiden Trump melakukan pembicaraan telepon dengan MBS. Dalam percakapan tersebut, MBS meminta support untuk tindakan militer terhadap Houthi dan mendapat restu dari Trump.

Gedung Putih, saat dimintai keterangan, merujuk pada wawancara Trump dengan Fox News pada Senin pagi saat dia melontarkan kritik keras terhadap Iran. Sementara itu, Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington belum memberikan komentar resmi.

Pemicu Konflik: Penerbangan Mahan Air

Ketegangan terbaru ini dipicu 10 hari lampau ketika pesawat milik Mahan Air dari Iran mendarat di Sanaa nan dikuasai Houthi. Pesawat tersebut menjemput delegasi pemimpin Houthi untuk menghadiri pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Penerbangan langsung dari Iran ke Sanaa merupakan kejadian langka nan tidak pernah terjadi selama lebih dari satu dasawarsa lantaran blokade Arab Saudi. Riyadh cemas jalur udara tersebut digunakan untuk mentransfer senjata alias penasihat militer Iran ke Houthi. Pejabat AS menyebut Mahan Air sebagai maskapai nan berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan telah dijatuhi hukuman oleh pemerintah AS.

Pada Senin, saat pesawat Iran tersebut dalam perjalanan kembali membawa delegasi Houthi, militer Arab Saudi mengebom Bandara Sanaa. Pesawat tersebut terpaksa dialihkan dan mendarat di Al Hudaydah di pesisir Laut Merah. Pejabat AS mengeklaim pesawat itu membawa senjata, suku cadang rudal, dan master militer untuk Houthi.

Dampak Terkini: Sebagai balasan, Houthi menembakkan rudal balistik dan drone ke Bandara Abha di barat daya Arab Saudi. Mereka juga memperingatkan maskapai internasional untuk tidak melintasi wilayah udara Saudi hingga blokade di Bandara Sanaa dicabut. (Axios/I-2)

Selengkapnya