Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka melontarkan kritik tajam kepada raksasa daya ExxonMobil dan Chevron. Trump menyebut kedua perusahaan tersebut mengeruk terlalu banyak untung dari lonjakan nilai minyak mentah nan dipicu oleh perang Iran.
"Mereka menghasilkan terlalu banyak duit berasas kelangkaan. Saya tidak menyukainya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Senin (3/8/2026) waktu setempat, dikutip CNBC International.
Laporan finansial kuartal kedua nan dirilis pada hari Jumat menunjukkan lonjakan untung tak terduga (windfall profits) bagi kedua raksasa minyak tersebut. Pendapatan Chevron meroket nyaris 400% menjadi US$ 12,0 miliar (Rp 192,0 triliun) dibandingkan dengan US$ 2,5 miliar (Rp 40,0 triliun) pada periode nan sama tahun lalu.
Sementara itu, untung ExxonMobil meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 14,5 miliar (Rp 232,0 triliun) dari sebelumnya US$ 7,1 miliar (Rp 113,6 triliun).
"Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil, terlalu banyak uang. Mereka bakal mengembalikan sebagiannya kepada publik dan lebih baik mereka memangkas nilai eceran, nilai konsumen," tegas Trump.
Hingga buletin ini diturunkan, pihak manajemen ExxonMobil maupun Chevron belum memberikan komentar resmi mengenai pernyataan presiden tersebut.
Harga minyak mentah AS tercatat telah melonjak sekitar 20% sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas tindakan tersebut dengan berupaya menutup jalur ekspor minyak melalui Selat Hormuz, sebuah langkah taktis nan memicu gangguan pasokan terbesar sepanjang sejarah perminyakan global.
Kontrak berjangka minyak AS mencatat nilai penutupan rata-rata sekitar US$ 92 (Rp 1.472.000) per barel sepanjang periode April hingga Juni. Angka tersebut 27% lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nilai pada kuartal pertama.
Sementara itu, nilai bensin satuan rata-rata mencapai kisaran US$ 4,10 (Rp 65.600) per galon secara nasional pada hari Senin. Berdasarkan info dari Asosiasi Otomotif Amerika (AAA), nomor ini melonjak nyaris 40% dibandingkan nilai US$ 2,98 (Rp 47.680) per galon nan dibayar konsumen pada 27 Februari, tepat sebelum perang meletus.
Menyusul komentar tajam Trump, saham Chevron tercatat merosot nyaris 2%, sementara saham ExxonMobil diperdagangkan sedikit lebih rendah. Saham perusahaan-perusahaan minyak raksasa ini sebenarnya telah berada di bawah tekanan pada perdagangan hari Senin akibat penurunan nilai minyak mentah sekitar 5%, seiring munculnya sentimen positif dari pasar nan berambisi perundingan AS-Iran dapat mencegah eskalasi bentrok lebih lanjut.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·