Universitas Trunojoyo Dampingi UMKM Keripik Tette Terapkan GMP

1 jam yang lalu 2
Universitas Trunojoyo Dampingi UMKM Keripik Tette Terapkan GMP Tim Pengabdian Universitas Trunodjoyo Madura berbareng pemilik UMKM Keripik Tette di Desa Blumbungan, Pamekasan.(Dok.Istimewa)

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mendampingi penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) pada UMKM Keripik Tette di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Pendampingan selama enam bulan itu ditujukan untuk meningkatkan standar keamanan pangan sekaligus memperkuat daya saing produk di pasar.

Program tersebut menjadi upaya mendorong UMKM pangan memenuhi standar higiene, sanitasi, dokumentasi, dan pengendalian mutu nan menjadi syarat memasuki pasar modern.

Ketua Tim Pengabdian UTM, Dita Megasari, mengatakan peningkatan mutu produk tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa, tetapi juga kudu didukung sistem produksi nan memenuhi standar keamanan pangan.

"Konsumen sekarang tidak hanya menilai rasa produk, tetapi juga keamanan dan konsistensi proses produksinya. Karena itu, penerapan GMP menjadi langkah awal nan krusial bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing," kata Dita.

UMKM Keripik Tette nan menjadi mitra program telah mempunyai Nomor Induk Berusaha (NIB), mempekerjakan sekitar 20 karyawan, serta memproduksi keripik tette dalam corak mentah siap goreng dan matang siap konsumsi.

ASPEK PERBAIKAN
Berdasarkan hasil identifikasi awal, tim menemukan sejumlah aspek nan perlu diperbaiki, antara lain penataan alur produksi, higiene pekerja, sanitasi peralatan, kebersihan lingkungan, penanganan bahan baku, penyimpanan produk, serta pengarsipan proses produksi dan sanitasi.

Selama enam bulan, seluruh tenaga kerja bakal mendapatkan pendampingan melalui training dan praktik langsung di letak usaha. Program juga mencakup penyusunan prosedur operasional standar (SOP), penerapan agenda pembersihan area produksi, pencatatan aktivitas sanitasi, serta pembiasaan penggunaan perlengkapan higiene bagi pekerja.

Anggota tim pengabdian, Dr. Iswahyudi, mengatakan penerapan GMP bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi, melainkan membangun budaya kerja nan bisa menjaga kualitas produk secara berkelanjutan.

"Ketika proses produksi sudah melangkah sesuai standar, UMKM bakal lebih siap mengembangkan produk, memperkuat identitas merek, memenuhi persyaratan sertifikasi, dan memperluas akses pasar," ujarnya.

PEMAHAMAN BARU
Pemilik UMKM Keripik Tette, Bu Ais, mengaku pendampingan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya standar keamanan pangan dalam proses produksi.

"Selama ini kami lebih konsentrasi menjaga cita rasa. Melalui pendampingan ini kami mulai memahami bahwa kebersihan area kerja, sanitasi peralatan, dan proses produksi nan tertata juga menentukan kualitas produk serta kepercayaan konsumen," katanya.

Tim pengabdian bakal melakukan monitoring dan pertimbangan secara berkala untuk memastikan seluruh rekomendasi dapat diterapkan sesuai kondisi usaha. Setelah penerapan GMP, program bakal dilanjutkan dengan penguatan branding, penyempurnaan kemasan, pendampingan sertifikasi, serta ekspansi pemasaran.

Berdasarkan info Kementerian UMKM, sektor UMKM mencakup lebih dari 99% unit upaya di Indonesia dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. Namun, peningkatan kapabilitas produksi dan penerapan standar mutu, khususnya pada sektor pangan, dinilai tetap menjadi tantangan.

Program pengabdian ini dilaksanakan oleh tim pengajar Universitas Trunojoyo Madura berbareng Universitas Islam Madura dengan melibatkan mahasiswa. Kegiatan merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat nan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema BIMA Tahun Anggaran 2026.

Melalui pendampingan tersebut, tim berambisi UMKM pangan tidak hanya bisa menghasilkan produk nan kondusif dan bermutu, tetapi juga lebih siap memenuhi persyaratan sertifikasi serta memperluas akses ke pasar regional maupun nasional. (E-2)

Selengkapnya