Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang besar migran nan beberapa hari lampau menyerbu wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, mulai berbalik arah. Banyak dari mereka nan sempat berenang alias melompati pagar perbatasan untuk memasuki wilayah Uni Eropa sekarang memilih pulang ke Maroko setelah menghadapi realita pahit berupa kelaparan, kelelahan, dan kesulitan hidup di wilayah tersebut.
Mengutip Reuters, Minggu (2/8/2026), para migran nan kembali ke Maroko mengatakan angan mereka untuk memulai kehidupan baru di Eropa runtuh hanya dalam hitungan hari setelah tiba di Ceuta.
Sebagian besar mengaku awalnya tergiur oleh video viral di media sosial dan pesan dari teman-teman mereka nan menyebut bahwa perbatasan nan selama ini dijaga ketat dapat ditembus.
Namun setelah sukses masuk ke Ceuta, mereka mendapati tidak ada jalur mudah untuk melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Spanyol.
Salah seorang migran berjulukan Brahim, pekerja toko roti asal Kota Fez, mengatakan dirinya meninggalkan pekerjaan dan memutuskan menyeberang setelah memandang ribuan orang melakukan perihal serupa.
"Kami datang untuk memperbaiki hidup, bukan untuk dibohongi," katanya.
Menurut Brahim, kondisi nan dihadapinya jauh dari gambaran nan beredar di media sosial.
Brahim mengatakan dirinya memperkuat selama tiga hari hanya dengan meminum air. Ia tidak bisa membeli makanan lantaran nilai nan menurutnya sangat mahal di wilayah Spanyol tersebut.
"Bagaimana mungkin satu sandwich tuna dijual seharga 100 dirham [Rp193.000]?"
Keluhan serupa juga disampaikan banyak migran lainnya nan mengaku kesulitan memperoleh makanan dan tempat tinggal.
"Ceuta Seperti Penjara"
Di Kota Fnideq, wilayah Maroko nan berbatasan langsung dengan Ceuta, Reuters melaporkan jalanan menuju perbatasan tampak nyaris kosong pada Sabtu. Pemandangan tersebut sangat berbeda dibanding Kamis lampau ketika ribuan orang memadati area itu untuk mencoba memasuki Ceuta.
Banyak pemuda terlihat melangkah menjauhi perbatasan alias menunggu taksi untuk meninggalkan Fnideq.
Para migran nan kembali ke Maroko menggambarkan pengalaman mereka di Ceuta sebagai situasi nan sangat sulit. Mereka mengeluhkan banyak supermarket dan toko tutup sehingga susah memperoleh makanan maupun air minum.
Banyak nan kudu menunggu busana mereka nan basah kering di jalanan.
Seorang pekerja di pelabuhan Tanger Med nan enggan disebutkan namanya mengatakan situasi di Ceuta sangat mengecewakan.
"Ceuta seperti penjara. Tidak ada nan bisa dilakukan di sana. Semuanya tutup," katanya.
Beberapa migran juga menuduh masyarakat El Principe, lingkungan nan kebanyakan dihuni penduduk keturunan Maroko di Ceuta, melakukan intimidasi dan mengusir mereka.
Seorang pelayan asal Maroko berjulukan Yassine Ichou mengaku dipukul dan dikejar keluar dari area tersebut.
"Mereka menerapkan semacam pengepungan untuk memaksa kami meninggalkan Ceuta dengan kemauan sendiri ... dan mereka sukses melaksanakan rencana itu," tuturnya.
Namun, meski banyak penduduk merasa resah akibat kehadiran mendadak ribuan migran, sebagian masyarakat juga menunjukkan rasa simpati. Seorang pekerja support di pusat penampungan migran mengatakan akomodasi tersebut sudah penuh dan tidak bisa menerima tambahan penghuni.
Ia memperkirakan tetap ada ribuan migran nan memperkuat di wilayah kantong Spanyol tersebut.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

4 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·