Update Perang AS-Iran: Pangeran Arab Bergerak, Trump Tahan Serangan

1 jam yang lalu 4
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bakal menunda rencana serangan baru terhadap Iran selama tetap ada kesempatan tercapainya kesepakatan untuk menghentikan ambisi nuklir Teheran dan membuka kembali Selat Hormuz nan menjadi jalur vital perdagangan daya dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu (1/8/2026) malam melalui platform Truth Social. Ia mengatakan Iran dan sejumlah negara di Timur Tengah meminta waktu untuk menyelesaikan kesepakatan nan bakal menghasilkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh sekaligus mengakhiri ancaman nuklir Iran.

Trump tidak menyebut negara-negara nan dimaksud dalam unggahannya. Pernyataan itu muncul setelah dia melakukan pembicaraan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, sekutu utama AS di kawasan.

"Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya meminta waktu untuk menyelesaikan kesepakatan nan bakal menghasilkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera, penuh, dan total serta mengakhiri ancaman nuklir Iran," tulis Trump.

"Berdasarkan permintaan tersebut, saya setuju, demi kepentingan bumi di masa depan dan juga demi kelangsungan hidup Iran nan sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan itu, dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai," tambahnya.

Trump juga menyebut Israel mendukung langkah tersebut.

"Israel berasosiasi dengan saya dalam komitmen ini," tulisnya.

Perundingan Iran-Oman

Di sisi lain, instansi buletin resmi Iran, IRNA, melaporkan pada Minggu (2/8/2026) bahwa perundingan antara Teheran dan Oman mengenai Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Laporan itu mengutip Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Namun, ahli bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembahasan nan berjalan hanya berfokus pada kesepakatan jalur pelayaran baru di area tersebut.

"Hal itu tidak ada kaitannya dengan apakah Selat Hormuz dibuka alias ditutup. Itu merupakan pembahasan nan terpisah," kata Baghaei.

Bulan lalu, Iran secara terbuka menolak proposal Oman nan didukung negara-negara Teluk untuk mengelola Selat Hormuz. Sumber nan mengetahui pembahasan tersebut sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa rencana itu mencakup pengenaan biaya sukarela bagi kapal nan melintas di jalur tersebut.

Iran Tingkatkan Kesiapan

Pernyataan Trump nan bersuara meredakan ketegangan menjadi perkembangan terbaru setelah beberapa hari terakhir kedua pihak saling melontarkan ancaman serangan baru. Konflik nan dimulai lima bulan lampau antara AS dan Israel melawan Iran telah meluas dari area Teluk hingga Laut Merah dan apalagi menjangkau akomodasi di Mesir.

Iran selama bentrok berjalan sebagian besar menutup Selat Hormuz, jalur nan sebelum perang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Penutupan itu mendorong kenaikan nilai daya dunia dan memperbesar tekanan inflasi.

Menteri Energi Israel Eli Cohen, nan juga personil kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan koordinasi keamanan dan intelijen antara Israel dan AS berjalan sangat erat.

Meski demikian, Cohen menegaskan Israel tetap siap bertindak terhadap Iran terlepas dari ada alias tidaknya kesepakatan.

"Dengan alias tanpa kesepakatan, serta terlepas dari komitmen eksternal apa pun, jika Iran mencoba menghidupkan kembali program nuklirnya alias memajukan industri rudal balistiknya, kami bakal hadir. Kami bakal bertindak dan kami bakal menyerang," kata Cohen, dilansir Reuters.

Trump dan Netanyahu diketahui berjumpa di Washington pada Selasa lalu. Seorang pejabat Israel mengatakan kedua pihak membahas seluruh opsi untuk membatasi program nuklir Iran, mulai dari jalur diplomasi, tekanan ekonomi hingga penggunaan kekuatan militer.

Teheran sendiri berulang kali membantah sedang mengembangkan senjata nuklir.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Iran sementara Brigadir Jenderal Majid Ebn Al-Reza mengatakan pemerintah Iran memandang ancaman terbaru dari AS sebagai corak "perang psikologis dan kognitif".

Namun, menurut laporan Press TV, Teheran tetap menanggapi ancaman tersebut dengan serius. Ia mengatakan Iran bakal meningkatkan kesiapan dan keahlian pencegahan daripada lengah alias bersikap pasif menghadapi situasi nan berkembang.

Arab Saudi Dorong Dialog

Sementara itu, alam percakapannya dengan Trump, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menekankan pentingnya jalur diplomasi untuk mengurangi ketegangan.

Menurut instansi buletin pemerintah Arab Saudi, sang putra mahkota menegaskan "perlunya memprioritaskan perbincangan untuk meredakan ketegangan" di Timur Tengah.

Seorang pejabat Gedung Putih membenarkan bahwa Trump dan Mohammed bin Salman telah berbincang melalui telepon, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi pembicaraan tersebut.

Harga Minyak Melonjak

Pada rapat kabinet Jumat lalu, Trump mengatakan tetap percaya para negosiator AS dapat mencapai kesepakatan dengan Iran. Tim tersebut mencakup menantunya Jared Kushner, utusan unik Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Ketegangan nan kembali meningkat setelah gencatan senjata April lampau runtuh telah mendorong nilai minyak bumi melonjak tajam. Kontrak berjangka Brent tercatat naik 24% sepanjang Juli, sementara para analis nan disurvei Reuters memperkirakan nilai minyak tetap berpotensi naik lebih lanjut tahun ini.

Trump berulang kali berdasar bahwa upayanya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir layak dibayar dengan biaya daya nan lebih tinggi dalam jangka pendek. Namun, tekanan ekonomi akibat kenaikan nilai daya juga meningkatkan dorongan politik agar pemerintah AS segera mengakhiri konflik.

Kekhawatiran sektor daya makin bertambah setelah golongan Houthi di Yaman nan berkawan dengan Iran mulai menakut-nakuti jalur Bab el-Mandeb dalam beberapa hari terakhir. Selat tersebut berada di ujung lain Laut Merah dan menjadi salah satu jalur ekspor krusial bagi minyak Arab Saudi.

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Sabtu melaporkan menerima laporan mengenai dua kejadian maritim di perairan Oman.

Dalam kejadian pertama, sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal nan merusak ruang mesin kapal. Pada kejadian kedua, nakhoda kapal tanker lain melaporkan memandang percikan besar dan ledakan di dekat kapalnya, meskipun tidak ada kerusakan nan tercatat.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya