Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan sepanjang Kamis (16/7/2026), menandai eskalasi terbesar sejak gencatan senjata nan disepakati bulan lampau mulai goyah.
Menurut laporan Reuters, militer AS mengumumkan telah melancarkan serangan keenam berturut-turut terhadap Iran dengan tujuan "lebih melemahkan keahlian militer Iran." Dalam sehari sebelumnya, Washington untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata melancarkan dua gelombang serangan udara besar nan sebagian besar menyasar wilayah pesisir selatan Iran.
Iran membalas serangan tersebut dengan menembakkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di area Timur Tengah, termasuk pangkalan udara di Yordania nan menurut Teheran digunakan dalam serangan terhadap rumah sakit kanker anak-anak di Iran.
Sementara itu, Trump pada Rabu menyatakan seorang penduduk negara AS nan ditahan di Iran telah dibebaskan sebagai "isyarat niat baik" dari Teheran.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah otoritas Iran. Lembaga peradilan Iran menegaskan tidak ada penduduk negara Amerika nan dibebaskan maupun ditukar dari penjara Iran, sebagaimana dilaporkan media pemerintah.
Pada Kamis malam, serangan AS kembali menghantam Pulau Qeshm dan wilayah sekitar Bandar Abbas, letak pelabuhan terbesar Iran sekaligus pedoman krusial Angkatan Laut dan Garda Revolusi nan berada di Selat Hormuz. Kantor berita Mehr melaporkan beberapa titik di Bandar Abbas ikut menjadi sasaran serangan.
Media Iran juga melaporkan serangan terhadap tiga jembatan, stasiun kereta api di Bandar Khamir, serta Bandara Iranshahr di tenggara Iran. Namun, Reuters menyebut belum dapat memverifikasi secara independen laporan tersebut.
Eskalasi terbaru turut mengganggu lampau lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis nan menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dan gas dunia. Iran kembali memperketat blokade di area tersebut, sementara AS memperbarui blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Teheran juga disebut memberi sinyal dapat meminta golongan Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandeb andaikan Washington terus menyerang prasarana Iran.
Menanggapi situasi tersebut, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan Presiden Trump tidak bakal tinggal tak bersuara menghadapi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.
"Presiden tidak bakal tak bersuara saja dan membiarkan tindakan terorisme aktif ini terjadi di selat tanpa memastikan Iran menanggung konsekuensinya," ujarnya. Meski demikian, Leavitt menambahkan Trump "selalu terbuka untuk diplomasi pada saat nan sama."
Sementara itu, ahli bicara militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menegaskan serangan udara AS tidak bakal bisa melumpuhkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Menurutnya, Iran tetap mempunyai keahlian menyerang jalur pelayaran strategis tersebut dari beragam titik di wilayahnya.
Pengamat Middle East Institute Alex Vatanka menilai kedua negara sekarang "kembali ke titik awal" dan bakal dihadapkan pada pilihan antara meredakan bentrok alias membawa eskalasi ke tingkat nan lebih tinggi.
(tfa/luc)
Addsource on Google

5 hari yang lalu
6







English (US) ·
Indonesian (ID) ·