Ilustrasi(Dok. Istimewa)
MUSIM kemarau nan melanda beragam wilayah di Indonesia mulai berakibat signifikan terhadap peningkatan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Namun, kejadian alam berupa cuaca ekstrem dinilai bukan satu-satunya aspek penyebab terjadinya kebakaran di area rimba lindung maupun konservasi.
Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat sekaligus Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Nasional, Dedi Kurniawan, menegaskan bahwa aktivitas manusia memegang peran krusial sebagai pemicu kebakaran, baik nan dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.
Faktor Manusia dan Aktivitas Ekonomi
Menurut Dedi, keterlibatan manusia dalam area rimba sering kali berangkaian dengan tiga sektor utama nan perlu diawasi secara ketat. Ketiga aktivitas tersebut meliputi perkebunan skala besar dan kecil, aktivitas panas bumi, serta sektor pariwisata.
"Kebakaran rimba dan lahan nan terjadi saat ini memang ada pemicu lain nan sangat berperan, ialah aktivitas manusia. Faktor keterlibatan manusia dalam area adanya aktivitas perkebunan, panas bumi, hingga aktivitas wisata," ujar Dedi Kurniawan pada Rabu (29/7/2026).
Ia menambahkan bahwa kasus kebakaran nan terjadi selama musim tandus sering kali berakar dari kesalahan manajemen dan lemahnya pengawasan di lapangan. Pengelola area wajib melakukan pemeriksaan rutin terhadap aktivitas di wilayahnya guna mengantisipasi akibat nan tidak diinginkan.
| Faktor Alam | Cuaca ekstrem dan kekeringan panjang. |
| Aktivitas Ekonomi | Perkebunan (skala besar/kecil) dan operasional panas bumi. |
| Aktivitas Publik | Kunjungan wisata di area rimba konservasi dan lindung. |
| Manajemen | Kurangnya pengawasan dan lemahnya izin pengetatan aktivitas. |
Rekomendasi dan Antisipasi
Guna menekan nomor karhutla, Walhi mendesak pemerintah untuk segera melakukan kajian mendalam terhadap setiap kejadian kebakaran. Analisis ini diharapkan menjadi bahan kajian untuk pembuatan izin nan lebih ketat mengenai pembatasan aktivitas manusia di area rentan.
Dedi menyarankan langkah konkret berupa pembatasan kunjungan wisata di area rimba lindung selama puncak tandus serta peningkatan intensitas pengawasan oleh pihak berwenang. "Untuk antisipasi karhutla, pemerintah agar melakukan upaya dengan membatasi kunjungan wisata hingga meningkatkan pengawasan," pungkasnya. (AD/I-1)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·