Yaqut Akui Beri 50 Persen Kuota Haji ke Jemaah Khusus, Pengacara: Demi Keselamatan Jemaah

17 jam yang lalu 4
 Demi Keselamatan Jemaah Sidang Perlawanan Kasus Korupsi Kuota Haji Terdakwa Yaqut Cholil Qoumas(Dok MI)

PENASIHAT norma mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Mellisa Anggraini, menegaskan kebijakan pembagian kuota haji tambahan sebesar 50% untuk jemaah haji reguler dan 50% untuk haji unik dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan jemaah.

Hal itu disampaikan Mellisa saat membacakan eksepsi alias perlawanan terhadap surat dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang perkara dugaan korupsi pembagian kuota dan penyelenggaraan haji di Kementerian Agama (Kemenag) tahun 2023-2024 di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (18/8).

Mellisa menilai surat dakwaan jaksa tidak jeli dan kabur lantaran tidak menguraikan adanya mens rea alias niat jahat dari Yaqut dalam kebijakan pembagian kuota haji.

Menurut Mellisa, pembagian kuota haji tambahan tersebut merupakan kewenangan Yaqut sebagai Menteri Agama. Dia menyebut kebijakan itu juga merupakan tindak lanjut dari kesepakatan resmi antara Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.

"Surat dakwaan tidak jeli dan kabur lantaran mengabaikan kewenangan atributif Terdakwa berasas Pasal 9 UU Nomor 8 Tahun 2019 serta kebenaran bahwa KMA (Keputusan Menteri Agama) Nomor 130 Tahun 2024 merupakan penetapan operasional turunan dari MoU resmi antara Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi tanggal 8 Januari 2024 nan membagi 20.000 kuota tambahan secara 10.000 reguler dan 10.000 khusus," kata Mellisa.

Dia menjelaskan, pembagian 20.000 kuota haji tambahan menjadi 10.000 untuk jemaah reguler dan 10.000 untuk jemaah unik alias masing-masing 50% dilakukan dengan sejumlah pertimbangan teknis.

Salah satunya, kata Mellisa, adalah aspek keselamatan jemaah selama penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi. Yaqut disebut mempertimbangkan keterbatasan jumlah petugas hingga kondisi cuaca ekstrem nan dapat memengaruhi penyelenggaraan ibadah haji.

"Pembagian tersebut ditetapkan melalui prosedur internal perancangan norma KMA 777 Tahun 2016 serta didasari pertimbangan teknis logis berorientasi keselamatan jemaah, hifdzun nafs dan salus populi suprema lex esto, demi mereduksi kepadatan ekstrem dan keterbatasan daya tampung bentuk di Armuzna, penyusutan area Muzdalifah, relokasi Mina Jadid, serta akibat keterbatasan petugas dan cuaca nan ekstrem," tutur Mellisa.

Menurut dia, pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa keputusan pembagian kuota bukan semata-mata kebijakan administratif, melainkan berangkaian dengan upaya mengantisipasi beragam akibat dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Mellisa juga mempersoalkan dakwaan KPK nan menyebut pembagian kuota haji unik tambahan sebesar 50% dilakukan tanpa landasan kajian teknis. Menurutnya, kebijakan tersebut mempunyai dasar norma dan melalui prosedur internal perancangan Keputusan Menteri Agama.

Sementara itu, dalam surat dakwaannya, JPU KPK mendakwa Yaqut menerima duit sebesar US$271.500. Jaksa menyebut penerimaan tersebut berangkaian dengan pengisian kuota haji unik tambahan tahun 2023 dan 2024.

Yaqut didakwa melakukan pengisian kuota haji unik dengan jemaah tanpa masa tunggu alias T0. Jaksa menyebut sistem tersebut tidak sesuai dengan ketentuan nan bertindak dan dilakukan untuk mengakomodasi permintaan dari Asosiasi Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Jemaah haji khusus dengan masa tunggu x, tahun Tx, tidak sesuai dengan sistem nan bertindak dengan tujuan untuk mengakomodir permintaan dari Asosiasi Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK),” kata jaksa dalam sidang sebelumnya, Selasa (11/8).

Jaksa juga menduga pengisian kuota haji unik tersebut disertai penerimaan fee percepatan dari para jemaah. Yaqut kemudian didakwa memperkaya diri sendiri, orang lain, alias suatu korporasi sebesar US$271.500.

“Memperkaya diri sendiri, orang lain alias suatu korporasi ialah memperkaya Terdakwa Yaqut Cholil Qoumas sejumlah US$271.500,” ujar jaksa.

Atas perkara tersebut, Yaqut didakwa menimbulkan kerugian finansial negara sebesar Rp622.090.207.166,41 alias sekitar Rp622 miliar. Nilai kerugian itu merujuk pada Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) Nomor 06/SR/LHP/XXI/PK.01/02/2026 tanggal 20 Februari 2026.

Selain Yaqut, terdapat tiga terdakwa lain dalam perkara tersebut. Mereka adalah Direktur Operasional PT Makassar Toraja (Maktour) Ismail Adham, Komisaris PT Raudah Eksati Utama sekaligus Ketua Umum Kesatuan Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri) Asrul Aziz Taba, serta mantan staf unik Yaqut, Ishfah Abidal Aziz namalain Gus Alex. (Muhammad Ghifari A/E-4)

Selengkapnya