Ilustrasi(Dok BBKSDA Riau)
BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Bidang KSDA Wilayah I terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta beragam pemangku kepentingan dalam menangani bentrok satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) nan terjadi di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menegaskan bahwa penanganan bentrok satwa liar kudu dilakukan secara terukur. Untuk itu, baik pemerintah, abdi negara keamananan, dan masyarakat kudu bersinergi bersama.
"Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan bentrok satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga kudu tetap mengedepankan prinsip konservasi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah, abdi negara keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan nan tepat terhadap perseorangan satwa penyebab bentrok tanpa menimbulkan akibat nan lebih besar bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri," kata Supartono, Kamis (6/8).
Tim WRU BBKSDA Riau pada Rabu (5/8), melaksanakan koordinasi berbareng Kapolres Indragiri Hilir, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota. Pertemuan nan dilaksanakan di Kantor Lurah Tembilahan Kota tersebut bermaksud menyamakan langkah penanganan sekaligus mengevaluasi perkembangan bentrok nan terjadi di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil koordinasi, bentrok terjadi di area Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota. Sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Juli 2026 hingga 5 Agustus 2026, tercatat 19 penduduk mengalami luka akibat serangan.
"Selain itu menimbulkan keresahan dan akibat psikologis di tengah masyarakat," ujarnya.
Hasil pemantauan sementara menunjukkan bahwa serangan diduga dilakukan oleh satu perseorangan Monyet Ekor Panjang dewasa nan diperkirakan berjenis kelamin jantan, dengan karakter unik terdapat jejak luka (codet) pada bagian pipi. Pola serangan umumnya terjadi ketika korban berada seorang diri alias dalam kondisi lengah, dengan sasaran gigitan pada bagian kaki sebelum satwa melarikan diri.
Hingga saat ini, perseorangan tersebut juga belum merespons umpan nan diberikan berupa pisang.
Sebelum keterlibatan Tim WRU BBKSDA Riau, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir berbareng Forkopimda telah melakukan beragam upaya penanganan, antara lain penyisiran letak menggunakan jaring dan tangguk nan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan, serta unsur masyarakat. Berbagai langkah mitigasi juga telah dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya korban baru.
Melalui rapat koordinasi tersebut disepakati bahwa penanganan bentrok bakal mengedepankan keselamatan masyarakat sekaligus tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi satwa liar. Seluruh pihak diminta untuk tidak melakukan perburuan terhadap satwa, melainkan memperkuat pemantauan di lapangan dan menyiapkan kandang perangkap sebagai sarana pemindahan nan kondusif andaikan perseorangan satwa sukses teridentifikasi.
BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, menghindari beraktivitas seorang diri di letak nan berpotensi menjadi jalur pergerakan satwa, tidak memberikan pakan kepada satwa liar, serta segera melaporkan kepada petugas andaikan memandang perseorangan monyet dengan ciri-ciri nan telah diidentifikasi.
"Balai Besar KSDA Riau membujuk seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan nan dapat memperburuk situasi. Penanganan bentrok satwa liar memerlukan kerja sama seluruh pihak agar keselamatan masyarakat dapat terjamin, sekaligus memastikan satwa liar tetap ditangani sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi satwa liar," pungkasnya.(H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·