Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 288.000 penduduk Jerman dilaporkan telah pindah ke luar negeri dalam kurun waktu setahun terakhir. Hal ini dikonfirmasi dari survei terbaru Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis) akhir pekan kemarin.
Ditunjukkan gimana mereka nan pergi adalah pekerja ahli berketerampilan tinggi. Bahkan, sebagian besar tidak berambisi untuk segera kembali.
Mengutip Euronews, Selasa (21/7/2026), sebenarnya ini tren sejak tahun 2020. Disebutkan jumlah pencarian untuk tawaran pekerjaan internasional telah meningkat lebih dari dua kali lipat.
"Rencana untuk pindah ke luar negeri sangat umum di kalangan mereka nan berpenghasilan tinggi," muat laman itu.
Lebih dari satu dari dua responden dengan pendapatan bersih rumah tangga minimal 6.000 euro (sekitar Rp114.600.000) mengatakan bahwa dalam 12 bulan terakhir, mereka telah melamar pekerjaan di luar negeri alias menjajaki pasar tenaga kerja internasional. Sementara dua pertiga responden mengatakan mereka umumnya mempertimbangkan untuk mengambil pekerjaan di luar negeri sedangkan sekitar 30% mengaku telah aktif mencari posisi alias mengirimkan lamaran.
"Dari mereka nan tertarik untuk pergi ke luar negeri, 77% mau tinggal di luar Jerman selama beberapa tahun alias apalagi secara permanen," tambah laporan itu lagi.
Lebih rinci, menurut perusahaan pencarian lowongan kerja (Indeed), banyak calon emigran kebanyakan pekerjaan kantoran di bagian pemasaran. Pekerjaan di bagian teknologi, perhotelan, dan logistik juga sangat diminati.
Survei juga meneliti apa nan mendorong orang untuk pergi. Dalam kasus di Jerman, tenaga kerja menyebut prospek pendapatan nan lebih tinggi dan kualitas hidup nan lebih baik, sekitar 51% dalam setiap kasus.
Sekitar 42% juga berambisi suasana nan lebih menyenangkan alias beban pajak dan iuran sosial nan lebih rendah di luar negeri. Sebaliknya, prospek pekerjaan dan promosi nan lebih baik menjadi aspek penentu bagi sebagian mini responden, hanya 24%.
Ekonom pasar tenaga kerja di Indeed, Virginia Sodergeld memandang mobilitas internasional sebagai perihal nan positif secara prinsip, lantaran pengalaman dan pengetahuan nan diperoleh di luar negeri dapat memberikan dorongan untuk penemuan dan pengembangan kesempatan upaya baru. Namun perihal tersebut juga kudu diwaspadai.
"Jika dua pertiga tenaga kerja mempertimbangkan untuk pindah, itu juga kudu dipahami sebagai tanda ketidakpuasan terhadap kondisi di Jerman sebagai tempat tinggal dan bekerja," tambahnya.
Di sisi lain, kepindahan penduduk ke luar negeri dari Jerman diyakini lebih lantaran beban pajak dan iuran sosial nan terlalu tinggi. Dari tiap 100 euro biaya tenaga kerja nan dikeluarkan pemberi bayaran untuk rata-rata tenaga kerja lajang, pekerja di bisa Jerman hanya menyimpan sekitar setengahnya (50,70 euro bersih).
Sisanya digunakan untuk pajak penghasilan dan iuran agunan sosial nan dibayarkan oleh tenaga kerja dan majikan. Hal ini tercermin dalam hasil survei nan sama, di mana 70% responden percaya bahwa beban pajak di Jerman terlalu tinggi dibandingkan dengan pendapatan dan bahwa komitmen pribadi di tempat kerja tidak memberikan hadiah nan cukup.
Masih merujuk lama nan sama, banyak penduduk Jerman memutuskan mencari pekerjaan Amerika Serikat (AS), dengan 14,4%. Paman Sam tetap tujuan terpopuler meski angkanya turun drastis dari tahun sebelumnya, nan mencapai 34%.
Inggris dan Swiss, menjadi pilihan kedua, dengan masing-masing menyumbang 13,6%. Australia menjadi pilihan ketiga dengan 10%.
(sef/sef)
Addsource on Google

15 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·