ilustrasi darurat militer di Tailan.(dok.MI)
PEMERINTAH Tailan memberlakukan darurat militer di Provinsi Narathiwat, Tailan selatan, menyusul serangan golongan pemberontak bersenjata terhadap pos keamanan nan menewaskan lima personel paramiliter, menurut laporan Thai PBS World.
Instruksi tersebut diterbitkan pada Kamis oleh komandan pasukan unik di Narathiwat, Mayjen Yod-Arwut Phuengpak, sebagai respons atas serangan terhadap pos keamanan di wilayah Ra-ngae nan terjadi pada Rabu (22/7) nan juga melukai enam penduduk sipil tersebut.
Melalui petunjuk tersebut, pasukan keamanan diberi kewenangan untuk mendirikan pos pemeriksaan di jalan, menggeledah kendaraan dan rumah nan diduga mengenai dengan aktivitas pemberontak, serta menahan orang nan dicurigai terlibat. Personel militer juga diberi kewenangan untuk menggunakan kekuatan ketika diperlukan dan proporsional terhadap ancaman nan dihadapi.
Militer setempat bakal bertanggung jawab menjaga perdamaian dan ketertiban umum di Provinsi Narathiwat, sementara aparatur sipil negara dan pejabat pemerintah setempat di bagian keamanan bakal bekerja di bawah komando otoritas militer. Empat provinsi di Tailan selatan, termasuk Narathiwat, mempunyai populasi Muslim Melayu nan besar dan merupakan bagian dari wilayah kerajaan Patani di masa lalu.
Pemberontakan di wilayah tersebut berakar dari bentrok etnis dan budaya antara Muslim Melayu nan tinggal di Tailan selatan dengan pemerintah pusat Tailan, di mana Buddha merupakan kepercayaan nasional de facto.
Kelompok pemberontak bersenjata pertama terbentuk pada dasawarsa 1960-an setelah diktator militer Tailan saat itu berupaya mengintervensi sekolah-sekolah Islam, tetapi meredup pada dasawarsa 1990-an.
Kemudian, pada 2004 lahir sebuah aktivitas bersenjata baru nan menyatukan beberapa golongan pemberontak dalam sebuah organisasi berjulukan Barisan Revolusi Nasional (BRN). Konflik di Tailan selatan merupakan salah satu insurgensi berintensitas rendah nan paling mematikan di dunia. (Ant/P-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·