Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kiri).(MGN)
SEJAK tahun ini, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mulai memasuki tahap tatalaksana alias pengobatan bagi peserta nan telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan glukosuria melitus. Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui Program CKG, melampaui sasaran mingguan nan telah ditetapkan.
Dengan dimulainya tahun aliran baru di seluruh Indonesia, Kementerian Kesehatan optimistis jumlah peserta bakal terus meningkat sehingga sasaran 130 juta peserta pada akhir 2026 tetap berada pada jalur pencapaian (on track).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan CKG tidak hanya menjadi program skrining terbesar nan pernah dilakukan di Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi untuk mengubah paradigma pelayanan kesehatan dari mengobati menjadi mencegah.
"Semakin banyak masyarakat nan melakukan cek kesehatan, semakin awal penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa nan sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang," kata Budi dalam keterangannya, Jumat (17/7).
Hasil sementara dari Kemenkes menunjukkan sekitar 35,4% pasien hipertensi nan terdiagnosis pada CKG 2025 telah kembali melakukan pemeriksaan pada CKG 2026. Dari jumlah tersebut, 46,9% telah sukses mengendalikan tekanan darahnya. Sementara pada pasien glukosuria melitus, sekitar 33,1% telah kembali melakukan pemeriksaan, dan 69,4% di antaranya sukses mencapai pengendalian kadar gula darah.
Pemerintah menargetkan pada tahun ini sedikitnya 50% penderita menjalani pengobatan rutin, dengan 50% di antaranya sukses mencapai kondisi terkendali, alias sekitar seperempat dari seluruh penderita hipertensi dan glukosuria nan ditemukan melalui CKG. Budi menjelaskan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit kronis bakal memberikan akibat besar terhadap penurunan nomor kematian akibat penyakit jantung dan stroke.
"Pengalaman beragam negara menunjukkan bahwa skrining kudu diikuti dengan pengobatan nan rutin dan pengendalian penyakit. Negara seperti Korea sukses menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular melalui pendekatan nan dikenal sebagai Triple 80, ialah 80% masyarakat diskrining, 80% penderita diobati, dan 80% di antaranya sukses terkendali. Itulah arah nan sedang kita bangun di Indonesia,” jelasnya.
Kemenkes bakal memperluas cakupan CKG, memperkuat tindak lanjut hasil pemeriksaan di akomodasi pelayanan kesehatan primer, serta memastikan masyarakat nan telah terdiagnosis memperoleh pengobatan dan pendampingan secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, Program CKG diharapkan tidak hanya meningkatkan nomor penemuan awal penyakit, tetapi juga bisa menurunkan beban penyakit tidak menular dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. (Iam/P-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·