loading...
Nida Nidyarti Rubini, Mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI). Foto/Dok.SindoNews
Nida Nidyarti Rubini
Mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI)
PADA 8 Agustus 2026, ASEAN memasuki usia ke-59 dalam lingkungan internasional nan semakin susah diprediksi. Rivalitas kekuatan besar tidak lagi hanya berjalan dalam perebutan pengaruh politik dan militer. Tetapi meluas ke perdagangan, teknologi, semikonduktor, mineral kritis, energi, hingga rantai pasok.
Konflik bersenjata di beragam area kembali menunjukkan rapuhnya interdependensi global. Pada saat nan sama, banyak negara memperkuat proteksionisme dan kebijakan industri untuk melindungi kepentingan strategis masing-masing.
Bagi Asia Tenggara, perubahan ini bukan sekadar dinamika nan berjalan di luar kawasan. Posisi ASEAN di persimpangan jalur perdagangan bumi dan keterhubungan ekonominya dengan beragam kekuatan besar membikin setiap perubahan geopolitik membawa akibat langsung.
Negara-negara Asia Tenggara kudu menjaga akses terhadap pasar, teknologi, investasi, energi, dan rantai pasok, sembari tetap mempertahankan ruang strategis agar tidak terjebak dalam ketergantungan berlebihan pada satu kekuatan.
Dalam situasi seperti ini, kebutuhan terhadap ASEAN semestinya justru semakin besar. Banyak tantangan nan tidak dapat ditangani negara secara sendiri-sendiri. Isu-isu seperti keamanan energi, ketahanan rantai pasok, perubahan iklim, transisi hijau, keamanan siber, tata kelola kepintaran artifisial, hingga keamanan maritim semuanya mempunyai dimensi lintas batas.
Namun demikian, kondisi nan sama juga memunculkan pertanyaan nan semakin susah dihindari: tetap cukupkah ASEAN mempertahankan relevansinya dengan terus berbincang tentang sentralitas?
Sentralitas telah lama menjadi salah satu fondasi diplomasi ASEAN. Selain itu, ASEAN menjadi poros ruang nan dapat diterima oleh negara-negara dengan kepentingan berbeda. Melalui ASEAN Regional Forum, ASEAN Plus Three, East Asia Summit, hingga ASEAN Defence Ministers’ Meeting Plus, ASEAN sukses membangun arsitektur nan menempatkannya sebagai convening power (kemampuan mempertemukan beragam pihak).
Bahkan ketika hubungan antar-kekuatan besar memburuk, negara-negara tersebut tetap datang ke beragam forum nan dibangun alias dipimpin oleh ASEAN. Di tengah rivalitas geopolitik, keberadaan ruang perbincangan nan inklusif merupakan aset strategis tersendiri. Namun, apakah convening power saja cukup membikin ASEAN tetap berada pada peran sentral?
Di tengah kompleksitas masalah dunia saat ini, negara tidak hanya memerlukan tempat untuk berbicara, namun mereka memerlukan sistem nan dapat membantu menyelesaikan persoalan konkret, seperti gimana mengamankan rantai pasok, menghubungkan jaringan energi, meningkatkan keahlian menghadapi serangan siber, memperoleh teknologi, alias merespons gangguan keamanan dengan cepat.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·