Adik Perempuan Kim Jong Un Ngamuk, Sebut Negara ASEAN Bodoh

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Adik wanita pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un, Kim Yo Jong, melontarkan kritik keras terhadap ASEAN setelah forum keamanan area kembali menyerukan denuklirisasi Semenanjung Korea. Kim apalagi menyebut seruan tersebut sebagai tindakan "bodoh" dan "mimpi liar" nan sudah tidak relevan.

Pernyataan itu disampaikan Kim pada Senin (27/7/2026), beberapa hari setelah ASEAN Regional Forum (ARF) nan digelar di Filipina mengeluarkan pernyataan berbareng mengenai program nuklir Korea Utara. Sebelumnya, dalam pernyataan nan dibacakan Menteri Luar Negeri Filipina Theresa P. Lazaro selaku ketua forum, negara-negara personil menyampaikan "keprihatinan serius" atas pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik Korea Utara nan dinilai melanggar hukuman Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Forum tersebut juga menegaskan bahwa program nuklir Pyongyang menakut-nakuti perdamaian dan stabilitas area serta mendesak dimulainya kembali perbincangan tenteram demi mewujudkan Semenanjung Korea nan bebas dari senjata nuklir. Namun, Kim Yo Jong menolak mentah-mentah seruan tersebut.

Melansir NKNews, nan mengutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kim mengaku kecewa terhadap sikap ASEAN nan dinilai mengikuti narasi Amerika Serikat mengenai denuklirisasi. Ia apalagi menyebut ASEAN sebagai "corong penghasilan Amerika Serikat (AS)".

Menurut Kim, sasaran denuklirisasi Semenanjung Korea sudah tidak mempunyai makna lantaran status Korut sebagai negara bersenjata nuklir telah ditegaskan dalam konstitusi negaranya. "Berpegang pada tujuan denuklirisasi hanyalah mimpi liar nan tolol dan sia-sia," ujar Kim.

Ia menegaskan senjata nuklir merupakan perangkat penangkal utama untuk menjaga kedaulatan negaranya dan menjamin keamanan nasional. Karena itu, Pyongyang bakal terus memperkuat keahlian nuklirnya tanpa penundaan.

Pernyataan Kim muncul ketika Korut tengah memperingati 73 tahun nan mereka klaim sebagai kemenangan dalam Perang Korea 1950-1953. Kim Jong Un turut menghadiri sejumlah aktivitas peringatan di Pyongyang.

Komentar tersebut juga datang setelah Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, di sela-sela pertemuan ASEAN pekan lalu, memihak kepemilikan senjata nuklir Korut. Menurut Lavrov, Pyongyang tidak mempunyai pilihan lain selain mengandalkan persenjataan nuklir untuk mempertahankan kedaulatannya.

Sebaliknya, AS, Korea Selatan (Korsel), dan Jepang kembali menegaskan komitmennya untuk mewujudkan denuklirisasi Semenanjung Korea dalam pertemuan nan sama.

Meski demikian, muncul sinyal berbeda dari Seoul, Menteri Unifikasi Korsel Chung Dong-young sebelumnya mengatakan pemerintahnya tidak lagi menjadikan denuklirisasi Korout sebagai sasaran jangka pendek. Sebagai gantinya, Seoul sekarang lebih memprioritaskan strategi "peace first" alias mengedepankan perdamaian melalui perbincangan pengendalian senjata.

Koreut terakhir kali mengirimkan perwakilan ke ASEAN Regional Forum pada 2024. Negara itu telah dua tahun berturut-turut tidak menghadiri forum keamanan terbesar di area tersebut

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya