Trofi Piala Dunia.(AFP )
GELOMBANG respons dari konfederasi sepak bola bumi mulai bermunculan menyusul rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE) selaku perusahaan baru nan bakal mengelola kewenangan komersial beragam turnamen termasuk Piala Dunia.
Dari seluruh konfederasi, UEFA tampil sebagai pihak nan paling keras menentang proposal tersebut. Sementara itu, AFC, CAF, dan Concacaf memilih meminta proses nan lebih terbuka sebelum keputusan diambil.
FFE merupakan entitas baru nan dirancang FIFA untuk mengelola aspek komersial kompetisi-kompetisinya dengan membuka kesempatan masuknya penanammodal swasta. FIFA menegaskan tetap bakal memegang kendali kebanyakan tetapi skema itu memicu kekhawatiran mengenai tata kelola, transparansi, hingga potensi komersialisasi berlebihan terhadap sepak bola.
AFC Kecewa tak Diajak Berdiskusi
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengambil sikap lebih moderat, tetapi tetap menyampaikan kekecewaan lantaran tidak dilibatkan sebelum proposal diumumkan ke publik. AFC menilai rencana sebesar ini semestinya dibahas lebih dulu melalui sistem tata kelola nan berlaku.
"AFC tidak diajak berkonsultasi mengenai proposal ini dan kecewa lantaran persoalan nan sangat krusial justru lebih dulu diketahui publik sebelum family besar AFC memperoleh kesempatan untuk mempelajari dan mendiskusikannya melalui jalur tata kelola nan semestinya," demikian pernyataan resmi AFC.
AFC mengakui pentingnya mencari pendekatan baru demi memperkuat masa depan sepak bola global. Namun, konfederasi Asia menyatakan setiap kebijakan strategis kudu berdasarkan tata kelola nan baik, transparansi, dan konsultasi nan bermakna.
"Semua pemangku kepentingan kudu memperoleh info nan memadai serta waktu nan cukup untuk menilai proposal ini secara menyeluruh, termasuk implikasi tata kelola, hukum, komersial, dan strategisnya," tulis AFC.
CAF Pilih Jalur Konsultasi
Konfederasi Afrika (CAF) mengambil pendekatan lebih hati-hati. Presiden CAF Patrice Motsepe mengumumkan rapat darurat Komite Eksekutif bakal digelar pekan depan untuk membahas proposal FIFA tersebut.
CAF juga meminta seluruh federasi anggotanya mempelajari arsip nan telah dikirim FIFA dan ikut berperan-serta dalam proses konsultasi. Di saat nan sama, CAF menegaskan komitmennya untuk tetap bekerja sama dengan FIFA dan seluruh pemangku kepentingan internasional demi memastikan pengembangan sepak bola Afrika memperoleh support pendanaan nan memadai.
Concacaf Soroti Proses
Konfederasi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) juga menyoroti langkah FIFA memperkenalkan proposal tersebut. Menurut Concacaf, mereka baru mengetahui rencana itu dari pemberitaan media sebelum menerima keterangan resmi FIFA.
Concacaf menyatakan kekecewaannya lantaran rincian proposal dipublikasikan sebelum dibahas berbareng badan tata kelola maupun para pemangku kepentingan sepak bola. Meski menyampaikan pendapatnya, Concacaf tidak menyatakan penolakan langsung terhadap proposal tersebut.
"Sebagai pemimpin sepak bola, kami adalah penjaga olahraga ini. Setiap keputusan kudu dipandu oleh tata kelola nan baik, proses nan kuat, dan tanggung jawab jangka panjang," tegas Concacaf.
UEFA: Piala Dunia Bukan untuk Dijual
Konfederasi sepak bola Eropa (UEFA) menjadi pihak nan paling vokal dan langsung menolak pendapat tersebut. UEFA menilai FIFA telah melewati pemisah dengan menggulirkan proposal tanpa pembahasan terlebih dulu berbareng para pemangku kepentingan. Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan Piala Dunia bukan untuk diperdagangkan.
Penolakan itu apalagi berpotensi bersambung ke langkah nan lebih ekstrem. UEFA dijadwalkan menggelar pertemuan darurat berbareng 55 federasi anggotanya untuk membahas respons lanjutan, termasuk kemungkinan mengangkat opsi boikot terhadap kejuaraan FIFA. Langkah serupa pernah digunakan UEFA pada 2021 ketika menentang usulan penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun sekali. (Dhk/P-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·