AI hanya Bisa untuk Curhat Ringan, bukan Konseling Medis

14 jam yang lalu 4
AI hanya Bisa untuk Curhat Ringan, bukan Konseling Medis AI tidak bisa menggantikan konseling profesional.(Dok. Magnific)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat bahwa penggunaan kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) dalam rumor kesehatan mental mempunyai batas nan sangat ketat. Meski marak digunakan sebagai tempat meluapkan isi hati, AI dinilai hanya efektif untuk menangani kondisi psikologis nan tergolong ringan.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, menegaskan bahwa teknologi AI belum bisa menggantikan peran tenaga medis profesional. Menurutnya, AI tidak mempunyai kapabilitas untuk melakukan intervensi medis nan mendalam.

"Fungsi AI ini biasanya hanya untuk memberikan respons penenangan, tapi bukan untuk edukasi, bukan untuk konseling, dan bukan untuk mengubah perilaku orang nan mengalami kendala," ujar Angga dalam seminar media, Selasa (21/7).

Angga menjelaskan bahwa AI tetap bisa diandalkan untuk meredakan kekhawatiran harian, seperti rasa gugup sebelum ujian. Dalam konteks tersebut, AI dapat memberikan empati dasar dan tips praktis. Namun, dia menekankan bahwa peran teknologi ini berakhir pada tahap penenangan awal saja.

Lebih lanjut, Angga memperingatkan bahwa AI tidak mempunyai kewenangan medis untuk melakukan pemeriksaan maupun memberikan intervensi kognitif. Oleh lantaran itu, masyarakat didorong untuk tetap mengutamakan jasa konseling dari psikolog alias psikiater profesional, nan sekarang banyak tersedia secara daring melalui organisasi resmi.

Peringatan ini menjadi relevan mengingat adanya akibat keselamatan pengguna akibat ketergantungan pada AI. Salah satu kasus nan disorot adalah kejadian tragis remaja di Amerika Serikat, Adam Raine, pada April 2025. Pihak family menyatakan adanya keterlibatan hubungan AI nan memberikan info rawan mengenai tindakan fatal.

IDAI menegaskan bahwa pendampingan langsung dari tenaga mahir tetap menjadi opsi utama nan paling aman. AI tidak mempunyai kontrol keselamatan medis maupun kapabilitas emosional sungguhan untuk menangani kasus kesehatan mental nan kompleks. (Z-10)

Selengkapnya