Ilustrasi perangkat pemantau gempa bumi lenyap di Aceh.(Antara)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi tindakan pencurian dan perusakan peralatan pemantau gempa bumi di Shelter Site BGASI, Desa Gantung Geluni, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Selatan Sugeng Prayitno dalam keterangan nan dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (7/8), mengatakan bahwa kejahatan tersebut menelan kerugian materiil hingga Rp246.442.213 sekaligus melumpuhkan operasional pemantauan seismik.
"Lumpuhnya Site BGASI memangkas keahlian jaringan BMKG dalam menentukan parameter gempa secara cepat. Keterlambatan info ini sangat rawan bagi keselamatan masyarakat," kata dia
Sugeng menjelaskan bahwa pelaku merusak pintu shelter dan memotong kabel instalasi untuk menggasak perangkat utama penerima info seismik seperti digitizer, modem VSAT, baterai, hingga set kabel solar panel.
Gangguan operasional pertama kali teridentifikasi setelah transmisi info terhenti total sejak Rabu (29/7), nan kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan oleh tim BMKG pada Senin (3/8).
Lumpuhnya Site BGASI dilaporkan menakut-nakuti keselamatan penduduk lantaran Gayo Lues berada tepat di lintasan Sesar Sumatera Segmen Tripa nan aktif dan berpotensi memicu gempa hingga 7,4 magnitudo
Ancaman tersebut tercatat pernah memicu kerusakan puluhan gedung pada gempa 4,9 magnitudo tahun 2017 serta gempa 5,6 magnitudo pada 22 Juli 2026 nan merusak akomodasi umum setempat.
Atas kejadian ini, Sugeng mengungkapkan pihaknya telah melaporkan kasus tersebut ke Polres Gayo Lues melalui STPL Nomor LP/B/42/VIII/2026/SPKT/POLRES GAYO LUES/POLDA ACEH untuk penyelidikan lebih lanjut.
Berdasarkan catatan Biro Hukum Humas dan Kerjasama BMKG, peristiwa di Gayo Lues menambah panjang rentetan tindakan vandalisme prasarana pemantau musibah di Indonesia, dengan sedikitnya 15 kasus pencurian serupa tercatat sejak tahun 2015 hingga 2026.
Rentetan kasus tersebut antara lain melanda Garut, Jawa Barat (2015); Muara Dua, Sumatera Selatan (2017); Manna, Bengkulu (2018); Indragiri Hilir, Riau (2022); Kluet Utara, Aceh Selatan (2022); Sorong dan Sausapor, Papua Barat (2022); Jambi (2022); Pulau Banyak, Aceh Singkil (2024); empat kasus di Sidrap, Sulawesi Selatan (2025); serta nan terbaru di Gayo Lues.
Untuk itu, BMKG membujuk seluruh masyarakat dan pemerintah wilayah berasosiasi menjaga akomodasi pemantau gempa sebagai aset vital negara nan menyokong keselamatan jiwa berbareng dari ancaman bencana. (Ant/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·