Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.(Antara)
MENTERI Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, mengingatkan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan rayuan melakukan kekerasan. Proses tersebut dapat berasal dari hubungan sederhana, support personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten nan terus berulang lantaran kerja algoritma.
“Ketika kekuatan narasi di era digital berasosiasi dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu nan buruk, dampaknya bakal termultiplikasi,” kata Meutya dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran dikutip Kamis (30/7).
Menurut Meutya, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa info nan terus muncul di layar merupakan kebenaran. Fakta kemudian kalah oleh emosi, keyakinan, dan paparan berulang nan membentuk situasi post-truth.
Ia mengatakan proses radikalisasi tidak terjadi secara instan.
Pendekatan dapat dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pengobatan, pelunasan utang, hingga janji memperoleh pendidikan alias kehidupan nan lebih baik. Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan nan bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak. Dampak paparan konten rawan tidak selalu terlihat dalam satu alias dua hari, tetapi dapat terbentuk perlahan selama berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun.
“Anak nan biasanya bercerita dari A sampai Z, perlahan hanya bercerita dari A sampai G. Kemudian berkurang menjadi A sampai C, sampai akhirnya tidak menceritakan apa pun kepada orang tuanya,” katanya.
Perubahan tersebut, lanjut Meutya, sering tidak disadari lantaran terjadi secara bertahap. Ketika paparan telah berjalan cukup lama, hubungan anak dengan family dapat berubah tanpa terasa. Karena itu, dia menilai kitab Atas Nama Surga tidak hanya relevan untuk memahami terorisme, tetapi juga menjadi cermin beragam persoalan sosial akibat ruang digital nan tidak sehat.
Dalam sesi diskusi, Penulis buku, Alexander Sabar, mengatakan algoritma menjadi komponen krusial lantaran terus menyajikan info nan sesuai dengan kesukaan pengguna. Ketika seseorang mengeklik satu konten mengenai jihad, misalnya, algoritma dapat merekomendasikan materi serupa dengan muatan nan semakin ekstrem.
Radikalisasi juga mulai masuk melalui permainan digital. Anak dapat berkenalan di dalam permainan, berasosiasi ke grup percakapan tertutup, lampau membahas kekerasan, terorisme, dan beragam corak kejahatan.
“Ruang digital menjadi sarana untuk menyebarkan radikalisasi. Dari permainan, mereka berdiskusi, masuk ke golongan tertutup, kemudian membicarakan beragam kejahatan dan tindakan kekerasan,” ujarnya.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Mayndra Eka Wardhana, membenarkan adanya pergeseran pola perekrutan. Anak dan remaja nan tumbuh sebagai generasi digital native menjadi golongan rentan lantaran sering kali lebih memahami penggunaan platform digital dibandingkan orang tuanya.
“Kami mendeteksi bahwa memang terjadi pergeseran pola perekrutan. Berbagai platform digunakan oleh pelajar, anak-anak, dan remaja. Algoritma mempunyai peran amplifikasi nan sangat besar,” kata Mayndra.
Ia menegaskan terorisme tidak dapat ditanggulangi hanya melalui penegakan norma lantaran mempunyai akar ideologis. Penanganannya perlu memadukan pencegahan, edukasi, kontra-narasi, deradikalisasi, serta kerja sama lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, media, dan platform digital.
Pelaksana tugas Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ratna Susianawati mengatakan anak merupakan salah satu golongan dengan tingkat kerentanan tertinggi dalam transformasi digital.
Teknologi, menurut dia, dapat memberikan faedah sekaligus membawa akibat serius.
“Teknologi digital bagi anak seumpama pisau bermata dua. Anak-anak kudu dibekali agar dapat memanfaatkan teknologi secara aman, nyaman, dan bijak sesuai pemisah usianya,” kata Ratna.
Ia menilai propaganda masif menjadi salah satu metode nan paling sering digunakan jaringan ekstrem. Dalam kondisi tersebut, family perlu menjaga komunikasi terbuka, memahami aktivitas digital anak, dan tidak menyerahkan seluruh proses pengasuhan kepada perangkat maupun platform.
Sementara Kriminolog Siber, Kisnu Widagso, mengingatkan bahwa kejahatan di ruang siber tidak berakhir sebagai aktivitas virtual. Dampaknya dapat beranjak dan dirasakan secara langsung di bumi fisik. “Kejahatan memang terjadi di bumi siber, tetapi dampaknya bukan hanya di ruang siber. Dampaknya juga terjadi di bumi nyata,” katanya.
Menurut Kisnu, anonimitas, kerahasiaan, enkripsi, serta ruang percakapan tertutup memberi kesempatan kepada pelaku untuk melakukan tindakan nan mungkin susah dilakukan di bumi fisik. Algoritma juga dapat membentuk echo chamber nan membikin pengguna hanya menerima info sejenis sehingga narasi ekstrem perlahan dianggap normal dan benar.
Jurnalis Sari Febriane, nan juga datang sebagai narasumber dalam obrolan tersebut memandang perubahan besar dalam penyebaran propaganda sebelum dan setelah era algoritma. Pada masa lalu, narasi kekerasan disebarkan melalui kepingan VCD alias arsip nan beranjak dari tangan ke tangan. Saat ini, ruang siber memungkinkan konten ekstrem menyebar lebih cepat, lebih personal, dan terus berulang.
“Ruang siber menjadi breeding ground sekaligus playing ground bagi beragam kejahatan nan memakai narasi sebagai kekuatannya. nan lebih rawan daripada senjata adalah cerita,” ujar Sari.
Selain diskusi, dalam aktivitas tersebut juga dilakukan peluncuran kitab Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran karya Alexander Sabar. Peluncuran dilakukan berbareng Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid serta Pemimpin Redaksi Harian Kompas, A. Haryo Damardono. (Cah/P-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·