Ilustrasi.(Magnific)
KELOMPOK Ansar Allah dari Yaman, nan lebih dikenal sebagai aktivitas Houthi, memberikan peringatan keras kepada Arab Saudi mengenai potensi serangan dahsyat jika Riyadh melakukan eskalasi militer. Ancaman ini muncul menyusul pengumuman blokade angkatan laut oleh golongan nan berkawan dengan Iran tersebut terhadap pengiriman komoditas Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb.
Sumber internal Ansar Allah mengungkapkan kepada Newsweek bahwa langkah ini merupakan respons langsung terhadap pembatasan pengiriman dan perjalanan nan diberlakukan Saudi ke wilayah Yaman nan dikuasai golongan tersebut. "Operasi kami ialah memberlakukan blokade terhadap musuh Saudi sebagai tanggapan atas blokade mereka terhadap Yaman selama bertahun-tahun," ujar sumber tersebut pada Selasa (21/7/2026).
Eskalasi di Jalur Perdagangan Vital
Blokade nan diumumkan pada Senin lampau ini menargetkan jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb nan menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah. Ansar Allah menegaskan bahwa strategi mereka saat ini secara unik menyasar kapal-kapal dan kebijakan Arab Saudi, bukan mengenai langsung dengan kerusuhan regional nan dipicu oleh perang AS-Israel melawan Iran nan meletus Februari lalu.
Namun, ancaman ini dianggap sangat serius mengingat rekam jejak Ansar Allah dalam mengganggu jalur air internasional. Sebelumnya, kampanye mereka di Laut Merah memaksa dua pertiga kapal kontainer dialihkan melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan, nan jauh lebih jauh dan mahal.
Konteks Konflik: Ketegangan terbaru pecah pekan lampau setelah Ansar Allah menuduh Riyadh menargetkan landasan pacu di Bandara Internasional Sanaa saat delegasi ketua golongan tersebut kembali dari pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Respons Arab Saudi
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk keras tindakan Ansar Allah. Dalam pernyataan resminya, Riyadh membantah tuduhan sabotase dan mengeklaim telah memfasilitasi transit lebih dari 300 kapal nan membawa bahan pangan dan bahan bakar ke pelabuhan Yaman utara selama semester pertama 2026.
Pihak Saudi menuduh kembali milisi Houthi mencoba mengekspor masalah ekonomi domestik dan penolakan rakyat dengan menciptakan tuduhan tiruan terhadap Kerajaan. Meski demikian, Riyadh menyatakan tetap berkomitmen pada penyelesaian tenteram tetapi akan mengambil semua tindakan nan diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai norma internasional.
Tekanan bagi Pemerintahan Trump
Situasi ini menambah beban bagi Presiden AS Donald Trump. Setelah sempat memerintahkan serangan intensif terhadap Ansar Allah pada awal 2025 nan menghasilkan gencatan senjata singkat, sekarang AS kembali menghadapi ketidakstabilan di area tersebut.
Runtuhnya nota kesepahaman AS-Iran bulan lampau menyebabkan lonjakan nilai bahan bakar dan tekanan pada stok amunisi Pentagon. Gangguan lampau lintas maritim di selat vital kedua setelah Selat Hormuz dipastikan bakal memperburuk biaya ekonomi dunia nan bakal dirasakan oleh perusahaan dan konsumen di seluruh dunia, termasuk potensi akibat pada nilai tukar rupiah akibat perubahan nilai daya global.
Ansar Allah, nan dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh pemerintahan Trump, menyatakan kesiapan untuk konfrontasi skala penuh jika diperlukan. "Rakyat kami telah menanggung banyak ketidakadilan Saudi nan didukung Amerika," tegas sumber Ansar Allah, merujuk pada support massa dalam reli besar di Yaman baru-baru ini. (Newsweek/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·