ilustrasi(Antara)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi akibat kejadian El Nino nan mulai melanda Ibu Kota. Salah satu upaya nan tengah dikaji secara mendalam adalah penyelenggaraan operasi modifikasi cuaca guna memitigasi akibat kekeringan ekstrem.
"Kami besok bakal rapat secara unik mengenai apakah modifikasi cuaca itu bisa dilakukan pada kondisi nan seperti ini," ujar Pramono di Balai Kota, dikutip Rabu (5/8).
Pramono menjelaskan bahwa Jakarta saat ini telah memasuki periode El Nino nan ditandai dengan musim kemarau nan lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini memicu kekhawatiran bakal meningkatnya potensi musibah kebakaran di wilayah Jakarta.
"Sekarang ini kita sudah masuk pada El Nino, musim nan sangat panjang kering, maka ini jika tidak dijaga bersama-sama kemungkinan untuk kebakaran itu tinggi sekali," tuturnya.
Meski demikian, Pramono menegaskan bahwa teknologi modifikasi cuaca (TMC) tidak dapat dilakukan secara instan alias sembarangan. Keberhasilan operasi tersebut sangat berjuntai pada kondisi atmosfer, terutama kesiapan awan potensial nan dapat disemai menjadi hujan.
"Jangan sampai kemudian kita sudah memodifikasi tetapi awannya enggak ada," tegas Pramono.
Untuk memastikan efektivitas langkah ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menjalin koordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Koordinasi ini bermaksud untuk menentukan momentum nan paling tepat dalam mengeksekusi penyemaian awan.
"Maka dengan demikian BPBD berbareng Penanggulangan Bencana Pusat kami koordinasikan kapan waktu nan tepat," jelasnya lebih lanjut.
Pramono memastikan bahwa operasi modifikasi cuaca bakal segera dilaksanakan begitu parameter teknis di lapangan terpenuhi, terutama saat terpantau adanya pertumbuhan awan nan cukup untuk disemai.
"Kalau memang ada awan pasti Jakarta bakal melakukan modifikasi cuaca," pungkasnya.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·