Ilustrasi(Dok Istimewa)
Akademisi Profesi Dosen Vokasi Indonesia (APDOVI) bersinergi dengan Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kesatuan Bogor sukses menyelenggarakan Seminar Nasional sekaligus Musyawarah Nasional (Munas) APDOVI ke-3. Perhelatan nan berjalan secara hybrid pada Sabtu (18/7) ini mengusung tema strategis "Revitalisasi Kapasitas Dosen Vokasi Berbasis Industri: Strategi Mewujudkan Alumni Siap Kerja dan Berdaya Saing Global".
Kegiatan ini menjadi momentum krusial bagi penguatan peran pengajar vokasi di tengah dinamika teknologi dan kebutuhan bumi industri nan terus berubah. Tercatat sebanyak 250 peserta berpartisipasi, dengan rincian 100 peserta datang secara luring di Kampus IBI Kesatuan Bogor dan 150 peserta mengikuti secara daring dari enam wilayah cakupan APDOVI di seluruh Indonesia.
Sinergi Strategis untuk Lulusan Kompeten
Ketua Umum APDOVI, Dr. Arman Faslih, menegaskan bahwa organisasi nan sekarang menghimpun lebih dari 2.600 personil tersebut berkomitmen menjadi wadah kerjasama pengajar vokasi. Menurutnya, peningkatan kapabilitas pengajar adalah aspek kunci untuk menghasilkan lulusan nan adaptif dan sesuai kebutuhan industri.
Senada dengan perihal tersebut, Rektor IBI Kesatuan, Prof. Dr. Bambang Pamungkas, menyoroti pentingnya kerjasama empat pilar: perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan organisasi profesi. Ia menilai APDOVI berkedudukan krusial dalam menciptakan penemuan pembelajaran nan relevan dengan bumi kerja.
Ketua Dewan Pengawas APDOVI, Prof. Dr. Ir. Sigit Pranowo Hadiwardoyo, DEA, menambahkan bahwa kualitas pendidikan vokasi kudu berakar pada penguatan kompetensi dosen, baik secara akademik maupun ahli melalui pengalaman industri nan nyata.
Merespons Perubahan Teknologi dan Industri 5.0
Dalam sesi keynote speech, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., menekankan bahwa kurikulum vokasi kudu menjadi living document. "Kurikulum perlu terus diperbarui melalui co-creation dengan bumi upaya dan industri, diperkuat penelitian terapan, serta sertifikasi kompetensi," ujarnya.
Sementara itu, Wikan Sakarinto, Ph.D., Direktur Politeknik Mitra Industri, mendorong transformasi menuju Project-Based Learning (PjBL) dan Teaching Factory (TEFA). Ia menegaskan bahwa parameter keberhasilan lulusan sekarang bergeser pada karakter, portofolio, dan keahlian memberikan solusi nyata bagi industri, bukan sekadar indeks prestasi akademik.
Dari perspektif industri, Wakil Ketua KADIN Jawa Barat Bidang Vokasi dan Sertifikasi, Hadi S. Cokrodimejo, mengingatkan tantangan Industri 5.0. Pendidikan vokasi dituntut menghasilkan SDM nan tidak hanya mahir teknologi digital seperti AI dan IoT, tetapi juga mempunyai produktivitas dan keahlian kerjasama nan kuat untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Hasil Munas ke-3: Kepengurusan Periode 2026–2029
Setelah sesi seminar, agenda dilanjutkan dengan Munas ke-3 nan menetapkan nakhoda baru untuk periode 2026–2029. Berdasarkan kesepakatan sidang, Prof. Dr. Ir. Sigit Pranowo Hadiwardoyo, DEA kembali ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pengawas, dan Dr. Arman Faslih, S.T., M.T. kembali dipercaya sebagai Ketua Umum APDOVI.
Berikut adalah susunan Ketua Wilayah APDOVI periode 2026–2029 nan ditetapkan dalam Munas:
| Wilayah I (Sumatera) | Dr. Rahmat Widia Sembiring, M.Sc.IT., Ph.D. |
| Wilayah II (Jabar, DKI, Banten) | Dr. Rahmat Yuliawan, S.E., M.M. |
| Wilayah III (DIY, Jateng) | Dodik Prakoso Eko Hery Suwandojo, S.ST.Par., M.M., CHE. |
| Wilayah IV (Jatim, Bali, Nusa Tenggara) | Dr. Indra Perdana Wibisono, S.ST., M.M. |
| Wilayah V (Kalimantan) | Rudy Haryanto, S.Sos., M.M. |
| Wilayah VI (Sulawesi, Maluku, Papua) | Dr. Halim, S.T., M.T. |
Melalui rangkaian aktivitas ini, APDOVI mempertegas komitmennya untuk terus memperluas kemitraan dengan bumi industri dan mendorong penemuan pembelajaran demi melahirkan lulusan vokasi nan ahli dan berkekuatan saing global.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·