APPI Curhat Soal Penggunaan Jasa Debt Collector, Ini Alasannya!

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno buka-bukaan soal nasib multifinance nan kerap dianggap sebagai mitra saat proses pembiayaan disetujui, namun dianggap musuh jika melakukan penarikan.

Padahal lanjutnya, perusahaan multifinance juga berutang dengan pihak bank. Sehingga tidak heran jika multifinance menggunakan jasa debt collector untuk membantu proses pemulihan jika ada pembiayaan nan kandas bayar. Salah satunya lewat penarikan barang.

"Kalau kami sampai mengirim debt collector adalah tindakan agar kami bisa melakukan recovery. Tapi kami juga menghimbau agar debt collector tidak melakukan hal-hal di luar batas," tegas dia dalam Multifinance CEO Gathering with OJK bertema "Navigating Uncertainty: Menjaga Performa Bisnis Multifinance di Tengah Tantangan Ekonomi dan Perubahan Lanskap Risiko," di Parle Senayan, Selasa (11/8/2026).

Suwandi pun merinci bahwa tugas debt collector nan digunakan hanya menagih dan persuasi, agar debitur datangi instansi pembiayaan untuk eksekusi. Hal tersebut terlihat mudah, meski pun pada kenyataanya tidak. Apalagi jika sampai ada pihak ketiga nan ikut terlibat.

"Dalam landscape masalah memang selalu ada perubahan risiko, oleh lantaran itu, kudu makin hati-hati," pungkas Suwandi.

Sebelumnya,Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK, Jasmi mengatakan, tantangan multifinance sangat besar dalam menjaga kualitas pembiayaan di tengah keahlian bayar debitur nan mulai menghadapi tekanan.

Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian agar pertumbuhan pembiayaan tetap melangkah sehat dan berkelanjutan.

Apalagi rasio pembiayaan bermasalah alias non-performing financing (NPF) kudu tetap dijaga pada level nan sehat. Selain itu, industri juga dihadapkan pada proses penagihan dan pengelolaan akibat pembiayaan.

"Itu nan jika tidak dilakukan pengelolaan dengan baik bisa jadi juga berpotensi semakin tingginya tantangan untuk melakukan pembiayaan di multi-finance baik nan baru maupun untuk nan sedang terjadi," ujar Jasmi.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya